Disamping itu, peningkatan produk ekspor UKM untuk jenis makanan dan minuman telah memberikan kontribusi besar pertama pada ekonomi kreatif sebesar 41,69 persen. Fashion menempati urutan kedua dengan nilai kontribusi sebesar 18,15 persen. Sedangkan untuk usaha furnitur dan craft berada di urutan ketiga dengan nilai kontribusinya sebesar 15,70 persen,
Untuk sektor pariwisata, Rully mengatakan peningkatan ekspor dilakukan dengan meningkatkan produk unggulan desa melalui OVOP (one village one product) yang terintegrasi dengan industri pariwisata. Ia juga mendorong optimalisasi ekspor ke pasar non tradisional agar devisit neraca perdagangan dapat ditekan secara maksimal.
Untuk diketahui Indonesia memiliki sekitar 58 juta unit usaha UMKM, mencapai 99,90 persen dari total unit usaha yang tersebar di seluruh tanah air. Namun masalah pembiayaan menjadi salah satu tantangan bagi kemajuan UMKM tanah air. Penyababnya adalah masih rendahnya kucuran kredit yang ditujukan untuk sektor ini.
“Ini adalah usaha-usaha yang dimiliki dan dijalankan oleh para petani, nelayan di pelosok daerah, tukang sayur, di pasar tradisional dan semacamnya. Banyak di antara mereka yang belum memiliki akses pinjaman ke bank,” ujar Rully.
Ia melanjutkan bawa terkonsentrasinya pelaku ekonomi di sektor ini tidak serta merta diikuti dengan kucuran kredit yang mencukupi. Dari Rp 5.300 triliun total kredit yang dikucurkan oleh bank umum di Indonesia tahun lalu, kurang dari 20 persen atau sekitar Rp 1.000 triliun saja yang ditujukan bagi UMKM. (Red)






