Perkuat Program PPK, Kemendikbud dan KNIU Gelar Pelatihan Learning to Live Together

Senada dengan Arief Rachman, Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kemendikbud, Praptono, mengatakan bahwa Kemendikbud menyambut baik program ini. “Ini seperti gayung bersambut dengan apa yang hari ini menjadi perhatian serius dari Kemendikbud. Bagaimana kita menghadapi radikalisme maupun kekerasan. Saya kira semangat untuk hidup berdampingan menjadi sesuatu yang sangat baik dan workshop ini akan membekalkan kepada para guru kita bagaimana agar kita bisa mengajarkan hidup berdampingan dengan penuh kedamaian, semangat gotong royong karena kita berada dalam wilayah NKRI. Ada 5 nilai utama ketika kita menanamkan pendidikan karakter, yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian,semangat gotong royong, serta integritas,” ucapnya.

Pada kesempatan ini, Direktur UNESCO Jakarta, Shahbaz Khan, menjelaskan bahwa konteks Learning to Living Together ini merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan hidup yang membentuk suatu harmoni. Hal ini sejalan dengan hal-hal yang menjadi perhatian UNESCO yaitu terjalinnya harmoni antara ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. “Kemiskinan, kekerasan, ketidaksetaraan, dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi penyebab terancamnya perdamaian berkelanjutan. Sebagai reaksi atas hal tersebut, UNESCO meluncurkan Global Citizenship Education (GCED). GCED adalah tanggapan UNESCO terhadap tantangan-tantangan ini. Caranya adalah dengan memberdayakan peserta didik dari segala usia untuk memahami bahwa ini adalah masalah global, bukan lokal dan untuk menjadi pendukung aktif masyarakat yang lebih damai, toleran, inklusif, aman dan berkelanjutan,” kata Shahbaz.

Kegiatan ini juga disambut positif oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Syafiq A Mughni, yang turut hadir dalam acara tersebut. Syafiq menekankan bahwa pelaksanaan kegiatan ini menyangkut hajat hidup manusia, tidak hanya yang hidup di Indonesia melainkan juga masyarakat internasional karena sama-sama merasakan masalah yang dialami umat manusia sekarang. “Oleh karena itulah, dunia pendidikan dianggap sangat strategis untuk membangun kehidupan yang positif. Mungkin awalnya anak didik tidak paham mengenai radikalisme dan ekstrimisme ketika membaca tentang hal tersebut tetapi yang penting adalah bagaimana mereka memiliki resiliensi. Mereka mempunyai daya tahan untuk menangkal pikiran-pikiran dan pengaruh yang tidak positif khususnya melalui dunia maya,” terang Syafiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *