Senada dengan Hasan, penangkar benih kentang asal Garut, Hudori, mengapresiasi upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mendukung pengembangan kentang di tanah air. Buktinya, yang diasakan sendiri berkat fasilitasi dari Kementerian Pertanian, usaha penangkaran benih kentang semakin berkembang.
“Teknologi pemuliaan juga berkembang didukung fasilitas screenhouse yang tersebar hampir di seluruh sentra produksi. Petani juga semakin antusias menanam kentang karena terbantu kebutuhan benih dan sarana produksinya,” kata Hudori.
Adapun biaya produksi kentang rata-rata per hektar mencapai 80 hingga 90 juta per hektar untuk sekali musim tanam 120 hari. Dengan hasil panen 20 hingga 25 ton per hektar dan harga jual normal Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per kilogram di tingkat petani.
“Dengan hasil yang menguntungkan inilah, usahatani kentang banyak digandrungi petani. Ditambah juga dorongan dari pemerintah pusat dan daerah,” ungkap Hudori.
Perlu diketahui, upaya Kementan menggenjot produksi dan ekspor kentang diakui berbagai pihak terbilang sukses. Tercatat sejak tahun 2018 lalu, Indonesia sudah tidak lagi mengimpor kentang sayur karena produksi dalam negeri sudah melampaui kebutuhan.
Berdasar catatan BPS, produksi kentang nasional tahun 2018 sebesar 1,28 juta ton meningkat 10,3% dari tahun sebelumnya 1,16 juta ton. Sementara kebutuhan nasional diproyeksikan sekitar 1 juta ton setahun. Ekspor kentang sepanjang tahun 2018 mencapai 5.163 ton antara lain ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan dan Timor Leste.
Sentra produksi kentang tersebar luas mulai dari Aceh hingga Papua antara lain Aceh Tengah, Gayo, Bener Meriah, Karo, Simalungun, Humbang Hasundutan, Solok, Garut, Pasuruan, Banjarnegara, Bandung, Kerinci, Wonosobo, Brebes, Probolinggo, Bener Meriah, Minahasa Selatan, Malang, dan sebagainya.






