Untuk Cabai besar dipasok dari Cianjur, Sumedang, Majalengka, Kulonprogo, Tasikmalaya dan Bandung dengan pasokan rata-rata 85 – 93 ton/hari.
Sementara untuk kebutuhan bawang merah se-Jabodetabek dipasok dari sentra besar Brebes, Cirebon, Majalengka, Pati, Demak, Kendal, Pemalang, Tegal hingga Nganjuk, dengan rata-rata pasokan mencapai 220 – 240 ton per hari.
“Kami perkirakan untuk Cabai dan bawang merah aman stabil, kami mengawal ketat pasokannya. Tentu kami melibatkan berbagai pihak untuk pengamanan pasokan dan harga cabai dan bawang merah ini”, kata Ismail. Melalui Posko Cabai dan Bawang Merah Ditjen Hortikultura, terus kami catat harga harian komoditas ini di tingkat petani dan pasar lokal di seluruh Indonesia, serta harga di pasar induk dan retail DKI Jakarta.
“Pemantauan bahkan tetap dilakukan saat hari raya Idul Fitri untuk berjaga-jaga sekaligus sebagai sistem peringatan dini ( _early warning system_)”, pungkas Ismail.
Dikonfirmasi melalui kontak seluler, Kasubdit Cabai dan Sayuran buah Ditjen Hortikultura, Mardhiyah Hayati, mengatakan bahwa pasokan cabai besar didominasi jenis cabai merah keriting dan jenis cabai besar TW. Jenis ini diserap untuk kebutuhan industri. Harga cabai besar TW yang sempat anjlok beberapa bulan lalu karena waktu itu banyak pertanaman. “Kami bersama dengan Dinas Pertanian daerah dan para petani champion terus berupaya memenuhi kebutuhan industri maupun konsumsi langsung masyarakat”, tandas Mardhiyah.
Aseng, petani cabai besar asal Sumedang menyebut harga cabai besar TW di Jakarta kompetisi karena permintaan pasar Bandung meningkat dari biasanya. Selain itu, kini pedagang dan konsumen fokus persiapan lebaran bersama keluarga. “Jalur transportasi menuju Jakarta dalam beberapa hari ini juga sedang digunakan untuk fokus arus mudik. Jalanan banyak yang macet dan tersendat. Sedikit banyak mempengaruhi ongkos transportasi. Jadi wajar ada dinamika harga”, ucap Aseng.






