Koperasi Edukarya Negeri Lestari, Semangat Berbagi Pendidikan

“Kita juga mengenalkan kepada para peserta tentang konsep kerja bersama dan mengajak mereka untuk berkoperasi,” kata Tauhid yang adalah lulusan Fakultas Hukum UGM.

Ia mengatakan KEN8 juga menjalin kerja sama dengan enam koperasi petani kopi, yakni di Papua, Jambi, Toraja, tiga koperasi di NTT. Kerja sama ini sudah terjalin jauh sebelum koperasi dibentuk.

Tauhid menceritakan, di tengah hingar bingar industri kopi, petani kopi justru dibelit permasalahan pelik yang disebabkan ketiadaan pengetahuan tentang komoditas yang ditanamnya.

Petani kopi mendapatkan harga jual yang sangat rendah, adanya praktik tengkulak, mata rantai distribusi yang cukup panjang. Tidak adanya pengetahuan membuat petani tidak punya daya tawar.

“Bahkan petani kopi tidak mengerti tentang kopi yang mereka tanam, bagaimana kualitasnya, penanganan pasca panen. Petani tidak paham dengan nilai jual, nilai kualitas dan daya tawar,” jelas Tauhid.

Oleh fakta tersebut, mereka berbagi pengetahuan terhadap petani. Ia mencontohkan bagaimana terbelakangnya pengetahuan para petani kopi di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. “Petani hanya menjual produknya dalam bentuk cherry bean ke tengkulak, padahal masih bisa diolah menjadi green bean agar harga semakin baik,” kata Tauhid.

Dengan menjual dalam bentuk cherry bean, kopi petani hanya dihargai Rp 2500/kg. Setelah mendapat edukasi, petani mulai bisa mengolah dan menjual dengan harga Ro 80 ribu/kg green bean ke koperasi.

Selain kopi, KEN8 juga tengah mengembangkan forum belajar untuk komoditas teh lewat unit Wikiti.
Model Platform
Sebagai koperasi, Tauhid menegaskan KEN8 adalah organisasi profit. Karena itu, KEN8 membangun bisnis yang disebut dengan model platform. Platform kemudian dikembangkan menjadi unit bisnis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *