Alpukat Probolinggo Siap Tembus Pasar Jepang dan Eropa

Melihat potensi alpukat Probolinggo yang sangat menjanjikan, Sri Wijayanti Yusuf, Plt Direktur Buah dan Florikultura berharap walaupun saat ini Kementan belum fokus untuk mengembangkan alpukat, petani dapat mengembangkan secara swadaya atau didukung oleh APBD.

“Pengembangan kawasan alpukat melalui dana APBN telah dilakukan dari 2011 hingga 2015 dengan total luas pengembangan 890 hektare di beberapa daerah sentra produksi seperti Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Garut, Semarang, Jember, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Blitar dan Lampung Tengah,” jelasnya.

Saat ini alpukat tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri namun sudah banyak permintaan dari negara-negara lain seperti Singapura, Hongkong, Korea, China dan negara-negara Timur Tengah. Bahkan saat ini pasar Jepang memerlukan pasokan alpukat segar dari Indonesia sebesar 5 kontainer per minggu.

Yanti menambahkan bahwa berdasarkan data BPS, ekspor alpukat pada 2018 lebih dari 205 ton atau senilai Rp 2,4 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 89 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 108 ton dengan nilai Rp 991 juta.

“Peningkatan volume ekspor alpukat didukung oleh peningkatan produksi dan mutu. Pada 2018, angka BPS menunjukkan produksi alpukat sebesar 410 ton dengan luas panen 23.955 hektare. Ini mengalami peningkatan sebesar 12,94 persen dibanding tahun sebelumnya,” jelas Yanti.

Yanti optimistis jika pemerintah dan petani mengembangkan alpukat dengan melakukan budidaya sesuai kaidah GAP/SOP dan ramah lingkungan dari on farm sampai off farm, maka sangat memungkinkan jika ke depan Indonesia mampu mensuplai permintaan negara-negara seperti Jepang dan Eropa. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *