Alpukat Probolinggo Siap Tembus Pasar Jepang dan Eropa

“Sementara itu Mentega memiliki ciri-ciri kulit akan berwarna kuning jika tua, mempunyai rasa yang kesat (punel) namun tidak terlalu manis. Alpukat mentega merupakan satu-satunya alpukat yang belum dilepas, namun kualitasnya tidak kalah dari alpukat yang lain,” terangnya Yulis.

Puji, bendahara Kelompok Tani Joko Tarup III menyebutkan bahwa tanaman alpukat sudah dikembangkan sejak lama, bahkan saat ini terdapat pohon alpukat yang sudah berumur 25 tahun.

“Produktivitasnya dapat mencapai 3 – 5 kuintal per pohon. Pemasaran ditujukan untuk pasar luar kota meliputi Jakarta dan Surabaya serta pasar lokal, dengan harga jual untuk kualitas super (1 kg berisi 2-3 buah alpukat) Rp 13 – 16 ribu, kualitas standar (1 kg berisi 4 buah alpukat) Rp 10 ribu dan kualitas lokal (1 kg berisi 5 buah) dijual dengan harga Rp 5 ribu,” jelas Puji.

Mulyono, Koordinator PPL di Kecamatan Tiris menerangkan bahwa petani di daerahnya merupakan petani maju yang terus berusaha memperbaiki usaha taninya. Terdapat ribuan pohon alpukat yang existing dan menghasilkan dengan potensi pengembangan yang masih sangat luas atau dari 10 ribu batang.

“Petani juga termotivasi untuk mengembangkan alpukat yang dahulu sempat redup dan berkurang akibat OPT fusarium yang menyebabkan tanaman alpukat menjadi mati,” tambahnya.

Bahkan, kata Mulyono, saat ini petani sangat terinspirasi menjadikan desa mereka sebagai desa organik tanaman alpukat. Perlakuan organik sudah diterapkan petani sejak 2014 sampai dengan saat ini, dengan menggunakan bahan-bahan organik seperti pupuk dan pestisida organik.

“Namun demikian petani membutuhkan dukungan dan bantuan dalam pengembangan alpukat serta pemasaran mengingat usaha tani alpukat lebih menjanjikan daripada komoditas lain seperti kayu sengon yang saat ini tengah marak dikembangkan,” jelas Mulyono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *