Porosnusantara.co.id, Bogor – Pengembangan sapi Belgian Blue (BB) merupakan salah satu peluang yang memberikan harapan bagi pemenuhan kebutuhan protein hewani, dan mengurangi ketergantungan impor daging.
“ini keseriusan kita berswasembada daging sapi 2026, maka melalui introduksi dan pengembangan Belgian Blue agar terbentuk rumpun sapi baru Indonesia”, jelas
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diamirta dalam kegiatan Evaluasi Pengembangan Sapi Belgian Blue di Indonesia di Bogor pada tanggal 15-17 Mei 2019.
Diarmita mengatakan rata-rata berat kelahiran BB murni 52,4 kg, dan BB persilangan antara 27-55 kg, kemudian pertambahan berat badan harian 1,2-1,6 kg/hari, serta bobot sapi jantan dewasa bisa mencapai 1.100-1.250 kg, maka Belgian Blue adalah salah satu pilihan masa depan pengembangan sapi potong di Indonesia.
Strategi Kementan mencapai swasembada daging sapi tahun 2026, dengan penyediaan dan pemanfaatan lahan untuk integrasi, penambahan indukan impor, peningkatan kelahiran dan peningkatan produktifitas (upsus siwab), pembiayaan dan subsidi (KUR), penguatan kelembagaan (kawasan/korporasi), serta regulasi dan deregulasi.
“Kemandirian ekonomi menjadi salah satu Nawacita Pemerintah, dan ketersediaan pangan yang beragam, sehat, mudah dijangkau dan bernilai tinggi harus diwujudkan”, lanjut Diarmita.
Sementara itu Kepala Balai Embrio Transfer (BET) Cipelang, Oloan Parlindungan menambahkan sampai saat ini terdapat anak BB murni hasil trasfer embrio (TE) sebanyak 97 ekor dan persilangan BB sebanyak 278 ekor yang berasal dari induk sapi jenis lain yakni FH, Simmental, Limousin, Angus, PO, Aceh, Madura, dan Wagyu.
“Anak hasil transfer embrio pertama yaitu Gatotkaca telah menghasilkan 1.614 straw semen beku yang merupakan waiting list semen untuk seluruh UPT yang ikut dalam program” kata Oloan bangga.






