Dalam rangka stabilisasi harga cabai dan bawang, Kementan mengadakan Rakor Petugas Pelayanan Informasi Pasar (PIP) beberapa hari lalu di Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat dengan mengundang petugas PIP dari kabupaten sentra cabai dan bawang yaitu Kabupaten Mamuju, Majene dan Polewali Mandar (Polman). Hasil pertemuan tersebut menunjukkan bahwa harga cabai dan bawang di tiga kabupaten tersebut kenaikannya tidak signifikan.
“Kenaikan harga cabai dan bawang di bulan Ramadhan terbilang masih wajar seiring dengan meningkatnya permintaan. Pedagang memanfaatkan momen tersebut setiap tahun,” ujar petugas PIP Polewali Mandar, Rosdiana.
Lebih lanjut Ramlia menyatakan lonjakan harga ini biasa terjadi setiap tahun saat awal Ramadhan dan akan kembali normal pada pertengahan Ramadhan, kemudian akan meningkat kembali pada H-3 sampai H+3 Idul Fitri.
Kepala Seksi Produksi TPH Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Barat, Sufri beberapa waktu lalu sebelum Ramadhan melakukan pemantauan langsung di lapangan dan hasilnya menunjukkan bahwa persediaan cukup.
“Pasokan cabai dan bawang aman hingga lebaran dan kemungkinan harga bisa naik lagi, tapi masih terjangkau oleh masyarakat seperti sekarang ini,” jelas Sufri.
Hakim, petani cabai rawit merah sekaligus pedagang besar di Majene menyatakan, “Harga dan pasokan cabai rawit merah dipastikan normal sampai lebaran karena masih akan ada panen sampai menjelang lebaran.”
Dirinya membeli cabai rawit merah dari petani di Majene untuk dipasok ke beberapa pasar di Sulawesi Barat dan Makassar. Setiap minggu bisa memasok 10 ton dengan tujuan Makassar, bahkan hingga ke Kalimantan dan Jakarta sesuai permintaan.
“Dalam satu minggu, rata – rata dapat mengirim tiga kali, dengan satu kali pengiriman sebanyak 1 – 3 ton. Pangsa pasar terbesar cabai rawit merah adalah pasar di luar Sulawesi Barat, sedangkan pangsa pasar terbesar cabai merah keriting adalah pasar di Majene,” papar Hakim.






