Buaman menuturkan sebagian besar petani bawang putih di Kabupaten Probolinggo sudah menerapkan budidaya bawang putih ramah lingkungan. Budidaya ini menggunakan pupuk bokashi padat yang merupakan hasil fermentasi pupuk kompos dan pupuk kandang dan memanfaatkan mikroorganisme pengurai. Selain itu juga mengaplikasikan Trichoderma pada waktu pengolahan tanah.
Untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati (biopestisida) seperti ekstrak daun sereh yang dapat mengendalikan aphid (hama perantara penyakit tanaman).
Tehnik menyerang dengan cara menghisap cairan tanaman dan menghasilkan gula yang menjadi media pertumbuhan penyakit karena virus atau cendawan dan thrip. OPT ini biasanya menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan pada daun muda dan bunga. Gejala yang ditimbulkan terlihat pada permukaan bawah daun atau bunga. Selain itu juga mengaplikasikan ekstrak daun sirih dan jambe tua sebagai antibiotik.
“Penerapan budidaya bawang putih ramah lingkungan ini tidak lepas dari bimbingan petugas POPT Kecamatan Sukapura. Sejauh ini belum ditemukan adanya serangan OPT pada tanaman bawang putih yang sampai mengganggu terhadap penurunan produksi bawang putih,” ujar Kasi Teknologi PHT Sayuran dan Tanaman Obat, Aneng Hermami.
Pada kesempatan tersebut Aneng menghimbau kepada Buaman dan anggota Gapoktan Sejahtera lainnya agar selain penerapan budidaya ramah lingkungan juga turut menerapkan sistem tumpang sari. Ini dilakukan agar petani tidak bergantung pada produksi bawang putih saja.
Budidaya bawang putih ramah lingkungan perlu terus diterapkan dan dimasyarakatkan agar dapat diperoleh produk bawang putih yang aman konsumsi dan lingkungan juga tetap lestari. Oleh karena itu, secara terpisah Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf menyampaikan perlunya sinergi antar lingkup Kementerian Pertanian.






