BUJANGSETA DAN SITARA, TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKSI DAN MUTU JERUK

Melihat beberapa permasalahan yang dialami petani, Kementerian Pertanian melalui Balitjestro memperkenalkan teknologi BUJANGSETA dan SITARA. BUJANGSETA adalah akronim dari teknologi pembuahan berjenjang sepanjang tahun. Sementara SITARA adalah singkatan dari sistem jarak tanam rapat.

“Penerapan teknologi BUJANGSETA atau teknologi pembuahan berjenjang sepanjang tahun dapat menghasilkan buah berkualitas premium seragam dengan cita rasa sesuai pasar, kulit buah mulus dan harga yang memadai,” tambah Sutopo, peneliti jeruk dari Balitjestro.

Lebih lanjut Sutopo menjelaskan bahwa penanaman jeruk dengan jarak tanam rapat atau dikenal dengan nama SITARA merupakan solusi alternatif untuk meningkatkan produktivitas dan mutu buah dengan efisiensi lahan dan biaya produksi.

“Dengan menerapkan teknologi ini, petani dapat menanam jeruk dengan populasi 4 hingga 6 kali lipat dibandingkan penanaman biasa. Biaya produksi dapat ditekan dan pendapatan petani akan meningkat. Untuk menghasilkan hal tersebut penerapan teknologi adalah kuncinya,” tambah Sutopo.

Sutopo juga menjelaskan, dalam penerapan teknologi SITARA, manajemen jarak tanam dan pola penanaman sangat penting. Selain itu tanaman harus rajin dipangkas agar terbentuk tanaman yang kerdil untuk memudahkan perawatan dan menghasilkan banyak cabang yang produktif.

“Pemangkasan akar juga perlu dilakukan untuk menjaga efisiensi pemupukan. Selain itu, sistem pengairan juga sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan teknologi SITARA. Sistem irigasi yang paling efisien adalah irigasi baris,” paparnya lebih lanjut.

Yanti berharap teknologi ini dapat diterapkan oleh petani lain, tidak hanya di Banyuwangi. Dalam hal ini Ditjen Hortikultura akan bersinergi dengan Balitjestro untuk meningkatkan sosialisasi penerapan kedua teknologi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *