“Negara Eropa maju, memulai revolusi industrinya dengan menggunakan batubara sebagai sumber bahan bakarnya, setelah ekonominya jalan itulah jalan menurun, sedikit demi sedikit mereka mulai meninggalkan batubara.Mereka meninggalkan batubara setelah engine of economic mereka berjalan. Demikian pula dengan China, pada awal-awal mereka tumbuh banyak beroperasi PLTU-PLTU batubara sebagai sumber energi listrik mereka untuk menghidupkan industrinya, sehingga saat itu Beijing memiliki tingkat polusi udara yang tinggi, namun sekarang setelah engine of economic mereka jalan, mereka mulai meggunakan renewable energy,” ungkap Arcandra.
Saat ini Indonesia masih memerlukan batubara sebagai sumber energi yang murah, selain agar harga listriknya terjangkau masyarakat juga untuk menggerakkan perekonomian agar produk-produk yang dihasilkan dapat berkompetisi di pasar dunia. Namun tahap berikutnya, energi terbarukan akan didorong sehingga tahun 2025 porsi 23% akan tercapai. Saat ini masa transisi.
“Kita saat ini masih membutuhkan sumber energi yang murah untuk menggerakkan ekonomi kita, sampai pada waktunya kita akan turunkan porsinya untuk digantikan dengan sumber energi yang terbarukan. Kita masih memerlukan sumber energi yang murah agar produk-produk yang kita hasilkan dapat berlompetisi dengan produk dari negara lain. Kalau sumber energinya mahal akan susah berkompetisi dengan negara lain untuk kebutuhan ekspor kita,” pungkas Arcandra. (Red)






