“Jadi, mereka tinggal menjalankan saja, kita yang akan membelikan tanah, mengurus izin, lalu membangun, legalitas, konsep, dan semuanya kita transparan. Setelah itu, kita bagi hasil propertinya. Mereka tinggal merekrut agen-agen properti, dimana jika agen property berhasil menjualkan properti, maka kita akan memberikan properti kepada developer pintarnya,” jelasnya.
Ida merinci cara menjadi developer pintar dengan menawarkan properti NPP kepada masyarakat. “Setelah mereka menjadi mitra Kami, lalu mereka merekrut agen-agen properti untuk menawarkan property itu. Kalau mereka berhasil menjual satu unit property, mereka akan diberikan satu unit property. Disini kita share unit. Satu unit properti dibagi-bagi sehingga harganya lebih terjangkau, senilai 15 juta. Selama ini, orang kan membeli izin licensi nya, tapi mereka hanya membeli property saja. Kalau di Kami, tidak begitu,” paparnya.
“Jadi, mereka beli satu unit properti NPP (Nilai Perbandingan Proposional), lalu mereka punya haknya untuk menjualkan kepada agent-agent properti dan Kami juga memberikan komisi kepada para agen. Kalau di Bali banyak properti NPP yaitu properti yang dipecah kecil-kecil. Soalnya, kalau satu unit, harganya mahal, apalagi kalau properti resort. Jadi, kalau beli satu unit mahal, maka kita pecah menjadi kecil-kecil. Misalnya, satu unit dipecah menjadi 365 untuk satu unit. Nominalnya menjadi 15 juta.
Ida mengaku memiliki total 195 unit properti, kalau dipecah menjadi 365 properti NPP, seharga 71 ribu per properti NPP. “Program saya simpel. Totalnya, 71 ribu properti NPP saya bagi dua 50 persen dijual dan 50 diberikan secara gratis. Kalau ada orang menjual ini, maka akan diberikan gratis,” ujarnya.






