Executive Director Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan Switch Asia II diluncurkan dengan nama program Mata Kail (program Mari Kita Kreatif dan Arif agar Ikan Lestari). Program ini akan berlangsung selama tiga tahun kedepan (2018 – 2021). Tujuannya, Pertama, meningkatkan peluang ekonomi anak muda, khususnya perempuan; Kedua, pengurangan dampak lingkungan dari pengolahan ikan dan Ketiga, mengurangi masalah kekurangan gizi anak balita dengan memberikan konsumsi ikan. Menurut Widiastuti, Uni Eropa telah memberikan dukungan dana sebesar 20 juta euro per tahun lewat berbagai program SDGs (Sustainable Development Goals) di Indonesia.

Hingga saat ini Plan Indonesia telah menjangkau 21 kabupaten dan kota di Indonesia. Sedangkan penerima manfaat dari program Switch Asia II di provinsi NTT, kata Widiastuti, untuk kabupaten Lembata, sebanyak 132.174 pemuda, Nagekeo, 139.577 dan Sikka, 313.509 pemuda. Penerim amanfaat dari program ini untuk masa waktu 36 bulan, yaitu Januari 2018 sampai Desember 2020). Ditargetkan 160 UMKM di NTT akan memperoleh teknologi inovasi pengolahan ikan.
Tobias Zehe (Program Specialist Plan German), menjelaskan proyek yang didanai Uni Eropa, fokus pada produksi dari konsumsi berkelanjutan pengolahan ikan di NTT. Plan German berterima kasih karena bisa memberikan dukungan pemberdayaan ekonomi kaum muda, terutama perempuan untuk meningkatkan partisipasi dalam sektor perikanan.
“Kami gembira dan percaya kerjasama kemitraan dengan pemerintah Indonesia adalah hal yang sangat penting. Kami harapkan kedepan kerjasama seperti ini dapat ditingkatkan lagi,” tutur Tobias Zehe.
Delegation Cooperation Uni Eropa, Hans Farnhammers, mengharapkan dengan dilaunching proyek ini dapat berjalan baik. Dia, senang karena proyek ini fokus pada sektor perikanan terutama dalam kegiatan promosi produksi dan konsumsi ikan secara berkelanjtan.(*/erni amperawati).






