Gen Z Dalam Himpitan Dopamin Ekonomi dan Krisis Tujuan Hidup

Ilustrasi kendali sumber : Pinterest @Stephanie Bassett
 
 

Porosnusnatara.co.id | Opini  – Tanggal gajian telah tiba dan bunyi notifikasi SMS atau mobile banking sepertinya menjadi bunyi yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang, terutama para Gen Z. Ada yang sumringah sebab bisa segera men-check out semua barang impian di keranjang belanja online shop, tapi banyak juga yang sedikit cemberut sebab harus menyelesaikan berbagai tagihan, mulai dari kartu kredit, sewa tempat tinggal atau apartemen, tagihan listrik, kartu seluler prabayar, dan kebutuhan bulanan lainnya yang tidak bisa ditunda.

Setelah itu, ada yang melanjutkannya dengan mencoba restoran atau tempat hangout yang sedang hype, menonton bioskop, atau serangkaian kegiatan lainnya yang bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dan bersenang-senang.

 

Hal-hal seperti itu semakin hari semakin lumrah terjadi dan kerap diidentifikasi dengan istilah self-reward, little treat, atau healing tipis-tipis. Bagi generasi X dan millennial, pengeluaran-pengeluaran itu dianggap sebagai pemborosan, tetapi bagi Gen Z, membeli sesuatu setelah gajian dianggap sebagai cara untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah sebulan penuh pekerja.

Tetapi banyak juga para Gen Z yang tetap memprioritaskan untuk menyisihkan sekian persen dari penghasilannya untuk ditabung, setelah itu barulah mereka menikmati hasil kerja mereka. Banyak di antara mereka yang tetap dihantui kecemasan mengenai masa depan seperti harga property yang terus melambung sehingga memiliki hunian sendiri terasa makin sulit dicapai.

Hidup Gen Z, sama seperti generasi-generasi sebelumnya pasti punya masalah dan kegalauan. Era para Gen Z seringkali disebut sebagai era bising tanpa filter. Era di mana jika minim ilmu maka mereka akan jadi korban tren. Ilmu adalah filter terhadap berbagai informasi. Ilmu menjadi perisai diri dari manipulasi, dan tanpa ilmu, akan sulit membedakan mana dalil dan mana opini. Jika tidak berhati-hati dan memiliki ilmu agama, maka Gen Z  dapat terjebak dalam labirin kehidupan, terlebih karena sistem kehidupan yang berlaku saat ini tidak mampu melindungi dan menjaga kehidupan masyarakat.

 
Penulis: Imas Yahya (Aktivis Muslimah Jakarta)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *