Porosnusantara.co.id| JAKARTA – Posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menjadi sorotan setelah Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu (22/7/2026). Pengunduran diri tersebut dilakukan setelah Nanik berpamitan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menjalani pengobatan terkait kondisi kesehatan jantung.
Kabar mundurnya Nanik disampaikan oleh Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan. Ia menyebut Nanik menghadap Presiden untuk menyampaikan pengunduran diri sekaligus meminta izin menjalani perawatan kesehatan.
Sebelumnya, Nanik baru menjabat sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana. Ia dilantik pada Juni 2026 dan memimpin lembaga tersebut dalam waktu relatif singkat sebelum akhirnya mengundurkan diri karena alasan kesehatan.
Pengunduran diri Nanik bermula ketika kondisi kesehatannya menurun dan membutuhkan perawatan medis lanjutan. Ia kemudian menyampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai keinginannya untuk melepas jabatan Kepala BGN agar dapat fokus menjalani pengobatan.
Presiden Prabowo disebut menerima keputusan tersebut. Meski tidak lagi menjabat sebagai kepala badan, Nanik tetap diminta untuk berkontribusi dalam pengawasan program Badan Gizi Nasional, termasuk rencana keterlibatannya dalam Dewan Pengawas BGN.
Setelah pengunduran diri tersebut, pemerintah akan menentukan sosok baru yang akan memimpin BGN, lembaga yang menjadi pelaksana program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai nama pengganti Nanik S. Deyang.
Sejumlah nama mulai dikaitkan sebagai calon pengganti Kepala BGN. Salah satu nama yang mencuat adalah Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono. Namanya disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk mengisi posisi tersebut, meski pemerintah belum memberikan pengumuman resmi.
Sudaryono dinilai memiliki pengalaman dalam bidang pemerintahan dan pertanian yang berkaitan dengan sektor pangan, salah satu aspek yang beririsan dengan pelaksanaan program MBG. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
Selain Sudaryono, pemerintah berpotensi mempertimbangkan figur lain yang memiliki pengalaman manajerial, pemahaman mengenai ketahanan pangan, serta kemampuan mengawal program gizi nasional berskala besar.






