Jurnalis Senior Taty Hartaty Tutup Usia, Keluarga Ungkap Perjalanan Melawan Tumor Usus

Porosnusantara.co.id |Jakarta – Dunia jurnalistik kembali berduka. Jurnalis senior Taty Hartaty meninggal dunia pada usia 75 tahun setelah menjalani perawatan intensif akibat tumor usus yang menyebabkan penyempitan saluran pencernaan. Almarhumah mengembuskan napas terakhir pada Selasa (7/7/2026) setelah berjuang melawan penyakit yang baru diketahui beberapa bulan terakhir.

Keluarga mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan almarhumah perlahan menurun tanpa disertai keluhan yang berarti. Putri almarhumah mengatakan, sang ibu tidak pernah mengeluhkan rasa sakit meski berat badannya terus menyusut.

“Awalnya Mami tidak pernah mengeluhkan rasa sakit. Yang kami lihat hanya badannya semakin kurus dari hari ke hari,” ungkapnya.

Kondisi kemudian memburuk ketika almarhumah mengalami kesulitan buang air besar hingga menyebabkan perutnya membesar. Hasil pemeriksaan CT Scan menunjukkan adanya penyempitan pada usus akibat tumor yang menghambat saluran pencernaan.

“Berdasarkan hasil CT Scan, dokter menemukan adanya penyempitan pada usus akibat tumor yang menghalangi saluran pembuangan. Karena itu diputuskan dilakukan operasi pemotongan pada bagian usus yang terdampak,” jelas pihak keluarga.

Tindakan operasi dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Namun, pascaoperasi kondisi Taty Hartaty belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Jumlah trombositnya turun drastis hingga sekitar 30.000, jauh di bawah batas normal yang berkisar 150.000.

Meski telah beberapa kali menjalani transfusi trombosit, peningkatannya hanya mencapai sekitar 49.000. Tim medis juga sempat menduga adanya kebocoran pada stoma sehingga merencanakan operasi lanjutan. Namun, setelah mempertimbangkan kondisi pasien bersama tim dokter, keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan tindakan tersebut.

Sebelum dirujuk ke RSCM, almarhumah sempat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, di antaranya Rumah Sakit Harapan Bunda, Rumah Sakit Budi Asih, dan Rumah Sakit Fatmawati.

Keluarga juga menjelaskan bahwa penyebab pasti penyakit yang diderita almarhumah masih menunggu hasil pemeriksaan patologi anatomi terhadap jaringan yang telah diangkat. Oleh karena itu, belum dapat dipastikan apakah tumor tersebut bersifat ganas atau jinak.

Di balik perjuangannya melawan penyakit, keluarga mengenang Taty Hartaty sebagai pribadi yang penuh semangat, kreatif, serta selalu memberikan inspirasi kepada banyak orang.

“Saya akan berusaha melanjutkan nilai-nilai yang selama ini diajarkan Mami. Semua nasihat dan kebaikannya akan selalu saya ingat,” ujar putrinya dengan haru.

Menurut keluarga, menjadi jurnalis merupakan cita-cita Taty Hartaty sejak usia muda. Keinginan tersebut sempat tertunda setelah menikah, namun akhirnya berhasil diwujudkan pada tahun-tahun terakhir kehidupannya.

“Profesi sebagai jurnalis adalah cita-cita Mami sejak muda. Beliau sangat mencintai dunia jurnalistik dan memiliki wawasan yang luas. Kami bersyukur keinginan itu akhirnya bisa terwujud,” tutur salah seorang anggota keluarga.

Selain aktif di dunia jurnalistik, almarhumah juga dikenal memiliki kecintaan terhadap seni. Bersama rekan-rekannya, Taty Hartaty turut menciptakan sejumlah karya lagu, di antaranya “Indonesia Maju” dan “Lestari Kebaya Indonesia”, sebagai bentuk kecintaannya terhadap bangsa serta pelestarian budaya Indonesia.

Keluarga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan doa, perhatian, dan dukungan selama almarhumah menjalani perawatan. Mereka berharap semangat perjuangan, dedikasi, karya, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan Taty Hartaty dapat terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Jenazah Taty Hartaty dimakamkan di area yang berada tidak jauh dari kediaman keluarga agar memudahkan sanak saudara untuk berziarah dan mengenang almarhumah.

Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *