Agama  

Tetap Berbuat Baik Meski Diuji Dunia

Porosnusnatara.co.id|

Di zaman ketika ketulusan sering dianggap sebagai kelemahan dan kebaikan dipandang sebagai kebodohan, tidak sedikit orang mulai bertanya: untuk apa tetap berbuat baik jika dunia justru membalasnya dengan luka?

Realitas kehidupan memang kerap menunjukkan hal yang pahit. Orang yang jujur bisa saja disingkirkan, orang yang tulus dapat dikhianati, bahkan mereka yang berusaha hidup benar terkadang justru menjadi sasaran ketidakadilan. Situasi seperti ini sering membuat hati manusia berubah—dari yang lembut menjadi keras, dari yang tulus menjadi penuh kecurigaan.

Namun iman Kristen mengajarkan sesuatu yang berbeda dari cara dunia berpikir.

Alkitab tidak pernah menjanjikan bahwa orang yang hidup benar akan selalu bebas dari masalah. Sebaliknya, Yesus sendiri telah memperingatkan bahwa kebenaran sering kali menghadapi perlawanan. Meski demikian, ada satu kepastian yang tidak pernah berubah: Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang hidup dalam kebenaran.

Dalam Mazmur 34:20 tertulis:

“Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan seseorang. Justru dalam berbagai kesulitan itulah kesetiaan Allah sering kali dinyatakan dengan cara yang nyata.

Di tengah dunia yang dipenuhi kepentingan, kebaikan sering tampak seperti sesuatu yang rapuh. Namun di hadapan Tuhan, kebaikan yang lahir dari hati yang takut akan Dia merupakan kekuatan yang tidak dapat dihancurkan oleh keadaan apa pun.

Rasul Paulus juga menegaskan dalam Roma 12:21:

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”

Inilah prinsip kerajaan Allah yang berbeda dari cara dunia bekerja. Jika dunia mengajarkan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, iman Kristen justru mengajarkan untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Ketika seseorang tetap memilih berbuat baik meskipun disakiti, ia sebenarnya sedang menunjukkan kedewasaan imannya. Ia tidak lagi hidup berdasarkan reaksi terhadap sikap manusia, tetapi berdasarkan kebenaran firman Tuhan.

Pada akhirnya, kehidupan sering membuktikan satu hal: orang yang hidup dalam kebenaran mungkin dapat dilukai oleh manusia, tetapi tidak akan pernah ditinggalkan oleh Tuhan.

Sebab bagi mereka yang hidup dalam kasih dan kebenaran, pemeliharaan Allah selalu bekerja—sering kali dengan cara yang melampaui logika manusia.

Kebaikan yang lahir dari iman tidak pernah sia-sia.

Penulis: AxnesEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *