Membangun Relasi Demokratik

“Oleh-oleh Anas Urbaningrum”

Jakarta-PorosNusantara.co.id
Saya termasuk yang merindukan kerukunan para pemimpin. Tidak ada perseteruan dan perpecahan.

Tapi, bukan bermakna selama sama dan seragam. Lalu terlarang untuk berbeda. Bukan begitu.

Jika pemimpin yang pergi dan datang tidak berseteru dan berkonflik, transisi kepemimpinan pasti akan berjalan lebih lancar dan tanpa gejolak.

Sebaliknya, proses transisi diliputi cuaca politik konfliktual antara yang lama dan baru, pasti terjadi “retakan sejarah” yang mengganggu proses pendakian bangsa ke tahap yang lebih tinggi.

Suasana perseteruan cenderung mendorong agar yang baru menghapus jejak yang lama, bahkan untuk hal-hal baik (prestasi) yang telah dihasilkan.

Relasi masa transisi yang konfliktual berpotensi memunculkan “demonisasi” kepada pemimpin lama. Orangnya dan hasil-hasil kerjanya bisa dipersetankan dan harus dikubur, diabaikan dan diperolokkan.

Ada episode sejarah kita yang seperti itu. Tidak asik.

Transisi yang lancar akan menyediakan cuaca kondusif bagi proses “kesinambungan dan perubahan” atau “perubahan dan kesinambungan”. Terserah pilih terminologi yang mana.

Faktanya, tidak ada kontinuitas tanpa perubahan. Bahkan untuk menjamin kontinuitas justru harus memahami dan menyesuaikan dengan perubahan, yakni keadaan2 baru yang muncul. Sebaliknya, perubahan tidak akan pernah berjalan sukses, jika alpa mempertimbangkan hal-hal baik yang justru musti dipastikan kontinuitasnya.

Karena itu, pemimpin baru patut respek kepada yang lama, termasuk dengan prestasi yang sudah dicapai.

Sebaliknya, pemimpin lama tidak boleh merasa yang baru harus selalu mengikutinya, lalu serba ingin cawe-cawe. Karena yang lama harus menyadari ada kelemahan dan kekurangan yang ditinggalkan. Dan itu adalah “ruang gerak” bagi yang baru untuk mengevaluasi, mengoreksi dan memperbaikinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *