Jika yang lama ingin serba cawe-cawe, bukan saja tidak bijak dan tidak menghormati yang baru. Bahkan itu bisa menimbulkan penilaian kurang elok, semisal disebut sindrom pasca-kuasa.
Jika yang baru mengabaikan dan melupakan yang lama, atau bahkan merendahkannya atau menyingkirkannya, itu sama saja. Tidak bijak dan tidak berani respek. Bisa dinilai kurang memahami makna “jasmerah”.
Yang lama harus menyadari bahwa musim telah berganti. Pemimpin baru sudah berdiri. Segeralah menyesuaikan diri dengan “busana mantan”.
Yang baru harus tegak berdiri. Sekarang amanah ada di pundak dan harus ditunaikan dengan berani. Jangan terbayangi sang mantan tanpa takaran.
Bisakah terjadi demikian?
Ya, itulah tantangannya. Harusnya bisa.
Saya termasuk yang berharap itu.
Semoga!
(Red-JBL)






