Madani Film Festival 2026 Angkat Semangat “Rimpang”, Perluas Ruang Aman Seni dan Budaya

 
 

Kholil menilai berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa daya hidup masyarakat tidak selalu muncul dalam bentuk gerakan besar.

Justru, menurutnya, upaya-upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dapat saling terhubung dan berkembang menjadi kekuatan bersama.

 

Madani Ingin Menjadi Ruang Aman

Salah satu narasumber, Inayah, menjelaskan bahwa pemilihan istilah “Rimpang” terinspirasi dari tanaman seperti jahe, kunyit, dan lengkuas yang tumbuh melalui jaringan akar di bawah tanah.

Rimpang dinilai menjadi metafora bagi gerakan yang tidak selalu terlihat, tetapi memiliki daya hidup dan dapat tumbuh ke berbagai arah.

Ia mengatakan Madani ingin menjadi ruang aman bagi berbagai gagasan dan komunitas, terutama ketika masyarakat menghadapi situasi sosial yang penuh ketegangan.

Menurutnya, seni dan budaya dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kelompok yang berbeda tanpa harus menyeragamkan gagasan mereka.

“Bukan gerakan monokultur,” menjadi salah satu gagasan penting yang ditekankan dalam pembicaraan tersebut. Setiap komunitas diharapkan tetap memiliki ruang untuk tumbuh dengan karakter masing-masing.

Soroti Ekosistem Seni dan Dukungan Pemerintah

Dalam diskusi tersebut juga muncul kritik terhadap kondisi ekosistem seni dan budaya, khususnya di Jakarta.

Madani dinilai telah menjadi bagian dari ekosistem seni selama sembilan tahun, tetapi keberlangsungan ruang-ruang kebudayaan dinilai membutuhkan dukungan yang lebih serius dari pemerintah dan pemilik sumber daya.

Persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut anggaran, tetapi juga komitmen untuk menjaga ruang-ruang seni, komunitas, dan inisiatif warga agar tidak mudah hilang akibat tekanan kebijakan maupun keterbatasan sumber daya.

 
Penulis: Supriyadi
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *