Dalam sejumlah program, terdapat absensi, rapor dan buku monitoring untuk mencatat perkembangan peserta.
Namun, ukuran keberhasilan pembinaan tidak cukup hanya berdasarkan jumlah kegiatan atau jumlah peserta.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana nasib warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
Apakah ijazah yang diperoleh membantu mereka melanjutkan pendidikan? Apakah keterampilan yang diberikan bisa menjadi modal bekerja atau membuka usaha? Dan apakah ada data yang menunjukkan keberlanjutan hasil pembinaan setelah mereka bebas?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembinaan pada akhirnya bukan hanya bertujuan membuat kegiatan selama warga binaan berada di dalam Rutan, tetapi mempersiapkan mereka untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Sekitar 1.100 Warga Binaan
Dalam wawancara tersebut, jumlah warga binaan di Rutan Kelas I Depok disebut sekitar 1.100 orang.
Jumlah tersebut membuat aspek keamanan, kesehatan, pendidikan, konseling, serta pembinaan keterampilan membutuhkan pengelolaan yang terukur dan berkelanjutan.
Rutan menyatakan terus mengembangkan inovasi dan menggandeng berbagai mitra untuk memperkuat pembinaan.
Bagi publik, transparansi mengenai jumlah peserta, hasil program, penggunaan anggaran, sertifikasi keterampilan hingga kondisi warga binaan setelah bebas menjadi bagian penting dalam menilai keberlanjutan pembinaan.
Sebab, ukuran keberhasilan bukan sekadar berapa banyak program yang digelar, melainkan seberapa jauh pembinaan tersebut mampu membekali warga binaan untuk kembali ke masyarakat dengan pendidikan, keterampilan dan kehidupan yang lebih mandiri.






