Dalam kesempatan itu, GEMURA juga memperkenalkan Nusantara Youth Conference (NYC) sebagai ruang dialog nasional yang mempertemukan generasi muda dari berbagai daerah.
Forum tersebut diarahkan menjadi wadah pertukaran gagasan dan kolaborasi yang membahas berbagai isu, mulai dari kepemudaan, ekonomi, UMKM, transformasi teknologi, lingkungan, hingga persoalan nasional dan internasional.
“Bukan sekadar konferensi, tetapi laboratorium gagasan anak muda. Bukan sekadar forum diskusi, tetapi tempat lahirnya kolaborasi,” kata Ghaza.
GEMURA Ingin Jadi Rumah Bersama Pemuda
Sementara itu, Koordinator Presidium GEMURA 2025–2026, A. Rajin Musa’ad, menegaskan bahwa GEMURA harus menjadi rumah bersama bagi generasi muda Indonesia.
Menurut dia, tantangan yang dihadapi anak muda semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi yang sangat cepat, persaingan ekonomi, pendidikan, lapangan kerja, persoalan lingkungan, hingga dinamika sosial dan geopolitik.
“Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton. Pemuda harus menjadi pelaku perubahan,” tegasnya.
A. Rajin mengatakan, Indonesia Emas 2045 tidak boleh berhenti sebagai slogan. Menurutnya, cita-cita tersebut merupakan proyek kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Karena itu, GEMURA mendorong kolaborasi lintas daerah, komunitas, profesi, dan generasi.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran anak muda dalam menghadapi polarisasi di ruang digital.
Perbedaan pilihan politik, menurutnya, tidak seharusnya berubah menjadi kebencian antarkelompok. Media sosial juga harus dimanfaatkan sebagai ruang membangun gagasan, bukan sebagai sarana menyebarkan kebencian dan memperlebar perpecahan.
“Gunakan media sosial sebagai ruang untuk membangun, bukan merusak. Sebagai ruang untuk menyatukan, bukan memecah. Sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan, bukan menyebarkan kebencian,” katanya.






