Eks Pegawai BNN Minta Masyarakat, Khususnya Anak Muda, Waspada Modus Baru Narkotika Vape Etomidate

 
 

Vape pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 2010, namun belum dikenal luas. Perkembangannya mulai meningkat pesat sekitar tahun 2013-2014. Pada periode ini, vape mulai beredar luas di berbagai kota besar. Yogyakarta menjadi kota pertama di mana vape populer, dengan basis importir di Yogyakarta dan Padang, sebelum menyebar ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.

Popularitasnya terus meningkat. Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS), pengguna vape naik dari 0,3 persen pada 2019 menjadi 3 persen pada 2021.
Penggunaan vape menjadi tren baru di kalangan masyarakat, khususnya anak muda. Selain tampil beda dari rokok konvensional, varian rasa yang beragam seperti buah-buahan, makanan, dan minuman membuat vape semakin diminati, tidak hanya oleh laki-laki tetapi juga perempuan.

 

Seorang pengguna aktif vape berusia 22 tahun yang telah menggunakan vape sejak 2024 mengaku tertarik karena pengaruh lingkungan pertemanan dan varian rasa yang ditawarkan.
“Awalnya cuma melihat teman-teman tongkrongan yang nge-vape. Kelihatannya keren, terus varian rasanya juga banyak, apalagi yang buah-buahan. Jadi akhirnya ikut mencoba, dan ternyata cocok,” ungkapnya.

Mantan pegawai BNN, Ari Permadi, meminta BNN, Polri, dan pemerintah untuk tanggap terhadap modus baru peredaran narkotika melalui vape.
“BNN, Polri, dan pemerintah harus segera tanggap dan bersinergi dalam melawan serangan narkotika. Lakukan penguatan sosialisasi secara masif kepada masyarakat dan pengecekan berkala terhadap toko-toko yang memperjualbelikan vape,” ujarnya.
Ari juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk waspada terhadap perkembangan tren penyalahgunaan narkotika dengan modus rokok elektrik (vape) etomidate.

 
Penulis: Ganta
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *