Maraknya kasus bully ini tentu saja ada pemicunya. Mulai dari pola asuh keluarga, pengaruh lingkar pertemanan, kompetisi dalam kehidupan yang tidak sehat, pengaruh dari sosial media, dan masalah-masalah pribadi seperti sakit hati, amarah, dendam, dan lain-lain. Semuanya adalah buah dari sistem kehidupan yang rusak karena jauh dari sistem kehidupan Islam kaffah.
Hal seperti ini tentu tidak dapat dibiarkan. Pada banyak kasus, para korban bully yang tidak memiliki support sistem yang baik, dapat mengakibatkan hal yang fatal, seperti berakhir dengan mengakhiri kehidupan atau bunuh diri. Salah satu contoh kasus adalah kematian Timothy Anugerah Saputera (22) yang diduga melompat dari salah satu gedung di Universitas Udayana, Bali, memunculkan spekulasi perundungan yang diduga dialaminya. Selain itu, kabar seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) tewas karena gantung diri. Siswa berinisial MR yang masih berusia 11 tahun diketahui dari Banyuwangi Jawa Timur. Diduga MR sengaja mengakhiri hidupnya karena mengalami perundungan oleh teman-temannya karena disebut tak memiliki ayah atau yatim.
Pada kasus Yurizal Tri Chaerawan, bisa saja semakin dropnya kondisi almarhum karena membaca atau mengetahui banyaknya komentar-komentar nirempati pada status yang diunduhnya di akun media sosial pribadi almarhum.
Kita tidak bisa abai terhadap fenomena ini. Islam memberikan tuntunan solusi yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini. Peran orang tua, kontrol masyarakat, dan peran negara sangat penting.
Menjadi orang tua yang bijak bagi anak-anak tentu sangat penting. Jangan sampai justru kita berperan dalam membentuk anak-anak melakukan bullying, misalnya dengan sering berkata kasar pada anak. Selain itu, sangat penting untuk menanamkan saksiyah islam pada anak-anak kita.






