Berry, Salah satu anak dampingan WVI yang aktif dalam Forum Anak Timor Tengah Selatan, NTT berujar, ” Saya mengundang ibu-bapak dan saudara-saudara sekalian untuk sama-sama memahami bahwa anak adalah objek bukan subjek. Saya sering menemui bahwa ketika anak bicara, seringkali suara kami tidak didengar, malah dibully, ditindas, atau dipukul. Menjaga anak berarti memastikan suaranya didengar, karena segala ide dan cerita yang kami sampaikan merupakan ungkapan isi hati kami. Selain itu, kami membutuhkan ruang untuk bertumbuh dan belajar. Penting bagi masyarakat untuk mendukung anak-anak karena kami adalah masa depan bangsa,” cerita Berry.
Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora berkata, “Melalui kegiatan ini, kami membawa berbagai bukti dan kisah nyata di berbagai wilayah, seperti program Pengasuhan dengan Cinta yang sukses menurunkan proporsi remaja yang mengalami kekerasan fisik dan agresi psikologis oleh pengasuh secara drastis dari 58,47% di tahun 2022 menjadi 18,9% pada tahun 2025. WVI sebagai organisasi yang berfokus pada anak, tidak ingin mendampingi secara sesaat saja, tetapi membangun sistem perlindungan anak yang mandiri dan berkelanjutan bersama masyarakat.
Plt. Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Rini Handayani mengungkapkan, ” Investasi terbaik bangsa adalah membangun manusia sejak usia anak atau dalam kandungan, dan setiap perubahan besar selalu dimulai dari praktek kecil yang dilakukan secara konsisten, dirawat bersama, hingga menjadi sebuah sistem yang dapat melindungi anak bersama. Kami mengapresiasi atas kontribusi Wahana Visi Indonesia yang senantiasa mendampingi anak-anak Indonesia.”






