Organisasi itu mengutip penelitian European Food Safety Authority yang menyebut tingkat prevalensi Salmonella lebih tinggi pada peternakan ayam petelur dengan kandang konvensional. Sementara berdasarkan data World Health Organization, Salmonella non-tifoid diperkirakan menyebabkan jutaan kasus gangguan pencernaan akut setiap tahun di berbagai negara.
AFFA menjelaskan, ayam petelur dalam sistem kandang sempit hidup di ruang yang sangat terbatas sehingga tidak dapat melakukan perilaku alaminya, seperti merentangkan sayap, bertengger, hingga bersarang.
Melalui aksi tersebut, AFFA berharap Union Group segera menyampaikan komitmen resmi terkait penggunaan telur cage-free dan mulai menerapkan standar rantai pasok yang lebih bertanggung jawab.






