Porosnusantara.co.id | Washington, 5 April 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat dunia terperangah setelah pada Minggu (5/4/2026) mengeluarkan ancaman keras penuh kata kasar lewat unggahan di platform X/Truth Social terhadap Iran, menjelang tenggat waktu pembukaan kembali Selat Hormuz yang strategis. Unggahan itu tidak hanya bernada agresif, tetapi juga menggabungkan frasa agama yang kontroversial dalam konteks ancaman militer.
Dalam unggahan yang viral tersebut, Trump menulis secara eksplisit:
“Tuesday will be Power Plant Day, and Bridge Day, all wrapped up in one, in Iran. There will be nothing like it!!! Open the Fuckin’ Strait, you crazy bastards, or you’ll be living in Hell — JUST WATCH! Praise be to Allah.”
Unggahan itu muncul di tengah meningkatnya konflik antara AS (bersama sekutunya) dan Iran yang telah berlangsung berbulan‑bulan, serta di saat Iran menutup akses Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran penting yang dilalui hampir 20 % pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan itu telah mendorong harga energi global naik tajam dan menimbulkan kekhawatiran ekonomi.
Trump memberi tenggat waktu hingga Selasa malam bagi Iran untuk membuka kembali jalur tersebut, dan secara tegas memperingatkan akan menargetkan pembangkit listrik, jembatan, dan infrastruktur penting lain di Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Unggahan Trump itu luar biasa kasar bahkan untuk standar politik Amerika — menggunakan kata‑kata umpatan seperti “crazy bastards” dan frase “fuckin’” untuk menekan Iran. Yang makin mencuri perhatian, di akhir pesan ia menaruh ungkapan religius “Praise be to Allah” setelah menyampaikan ancaman militer yang menghantui.
Kombinasi bahasa profan dan referensi agama ini langsung memicu gelombang reaksi dari berbagai pihak, terutama di tengah populasi Muslim internasional yang menilai penggunaan ungkapan agama dalam konteks ancaman militer bisa menambah ketegangan sosial dan politik.






