Porosnusantara.co.id|Jakarta, 7 April 2026 — Harga minyak dunia kembali berada di level tinggi, mencerminkan ketidakpastian pasokan global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta gangguan jalur transportasi energi vital seperti Selat Hormuz. Situasi ini menyebabkan pasar energi global mengalami fluktuasi signifikan pada berbagai tolok ukur harga minyak mentah utama.
Pada perdagangan terbaru, WTI (West Texas Intermediate) diperdagangkan di atas US$113 per barel, sedangkan Brent crude—tolok ukur global utama—mencatat harga sekitar US$110 per barel. Posisi WTI yang lebih tinggi dibanding Brent menunjukkan dinamika pasar yang unik di tengah gangguan distribusi minyak melalui jalur laut.
Ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Iran turut memperberat sentimen pasar energi global. Trump telah menetapkan batas waktu bagi Iran untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz, salah satu rute transit minyak paling penting di dunia, atau menghadapi tindakan militer terhadap infrastruktur energi negara itu. Kebijakan ini memicu kekhawatiran investor bahwa konflik di Timur Tengah bisa semakin meluas, memicu gangguan pasokan minyak yang lebih besar dan menekan harga energi dunia.
Kekhawatiran pasar semakin meningkat ketika Trump mengancam akan menargetkan fasilitas energi dan transportasi Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi, memperkuat risiko gejolak pasokan crude global. Investor kini memantau dengan cermat bagaimana ketegangan ini akan berkembang, dengan banyak analis mencatat bahwa setiap eskalasi lebih lanjut bisa menyebabkan harga minyak melonjak tajam karena gangguan pasokan di kawasan yang sangat strategis ini.
Lonjakan harga ini merupakan respons pasar terhadap gangguan pasokan global akibat eskalasi konflik dan kekhawatiran investor atas stabilitas distribusi energi. Kedua tolok ukur utama, Brent dan WTI, telah menembus batas psikologis US$100 per barel dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, sebuah level yang jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Data harga terbaru menunjukkan bahwa Brent crude berkisar antara US$108–111 per barel, sementara WTI diperdagangkan di kisaran US$110–115 per barel, mencerminkan volatilitas yang tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Perbedaan harga antara Brent dan WTI tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan permintaan, tetapi juga dampak gangguan fisik terhadap aliran minyak global, terutama melalui rute laut utama di Teluk Persia. Biasanya, Brent diperdagangkan sedikit lebih tinggi daripada WTI karena posisi strategis rute ekspor lautnya. Namun, dalam beberapa sesi terakhir, WTI sempat melampaui Brent, karena pasokan domestik Amerika Serikat relatif tidak terpengaruh langsung oleh gangguan distribusi global.






