Porosnusantara.co.id |Riau-Kehadiran Dodi Syaputra di tengah memanasnya situasi Panipahan patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian. Namun, publik tentu tidak menutup mata terhadap satu pertanyaan mendasar: di mana posisi beliau sebelum situasi ini meledak menjadi aksi massa?
Masyarakat Panipahan tidak bergerak secara tiba-tiba. Keresahan terhadap maraknya peredaran narkoba merupakan akumulasi panjang dari rasa takut, ketidakpastian, hingga kesan ditinggalkan. Ketika suara itu tak cukup didengar dalam suasana tenang, ia akhirnya berubah menjadi teriakan dalam bentuk tindakan.
Kehadiran pejabat publik setelah peristiwa besar kerap memunculkan tafsir ganda—antara empati yang tulus atau respons atas momentum. Dalam etika kepemimpinan, keberpihakan sejati justru diuji sebelum sorotan datang, saat persoalan masih bisa dicegah tanpa gejolak.
Riady, Ketua GPM Rohil (Gerakan Pemuda Mahasiswa Rokan Hilir), menegaskan bahwa generasi muda tidak alergi terhadap kehadiran wakil rakyat, namun menuntut konsistensi.
“Bukan soal hadir atau tidak, tapi kapan hadir. Kami butuh pemimpin yang datang sebelum keadaan panas, bukan setelah semuanya meledak,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa isu narkoba bukan panggung sesaat. Ini adalah persoalan serius yang menuntut kerja berkelanjutan, sinergi nyata, serta keberanian mengambil sikap sejak dini. Menurutnya, menjadikan peristiwa sosial sebagai momentum politik justru berisiko mengaburkan akar persoalan yang jauh lebih kompleks.
Dalam konteks ini, sebuah pesan terbuka patut disampaikan kepada Dodi Syaputra:
Hadir di tengah krisis memang penting, tetapi hadir sebelum krisis jauh lebih bermakna. Masyarakat tidak hanya mengingat siapa yang datang saat keadaan genting, tetapi juga siapa yang memilih diam ketika masalah mulai tumbuh.






