Jaenal mengungkapkan bahwa selama ini sebagian kebutuhan pangan jemaah haji Indonesia justru dipasok dari negara lain, seperti Thailand. Padahal Indonesia merupakan negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia.
“Sangat mengkhawatirkan. Jadi bagian dari analisa kami, Kementerian haji itu ada dua. Satu Kementerian Haji Arab Saudi, yang kedua adalah Kementerian Haji Republik Indonesia. Jadi di dunia ini hanya ada dua Kementerian Haji dan jumlah jemaah haji paling banyak adalah dari Indonesia, 221 ribu. Paling banyak. Tapi dari sisi bergaining position terkait dengan komoditas yang mestinya datang dari Indonesia selama ini tidak dinikmati,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto mendorong agar anggaran operasional penyelenggaraan haji yang nilainya mencapai sekitar Rp18 triliun dapat memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia.
“Pesan pak presiden harapannya Rp18 triliun sekian untuk operasional haji ini ada yang bisa balik lagi ke Tanah Air. Tidak kemudian baliknya, tahun-tahun sebelumnya itu adalah sebagian dari keuntungan yang ada itu masuk ke Vietnam, Filipina, Thailand, Australia, Brasil dan yang lain,” ujarnya.
Menurut Jaenal, ekspor beras tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat posisi tawar Indonesia dalam pengelolaan layanan haji internasional sekaligus membuka peluang bagi komoditas nasional lainnya untuk masuk ke pasar Arab Saudi.
Wartawan: Rudi







