Gelar Kupatan, Masyarakat Dusun Ngasbuntung Menjaga Tradisi dan Melestarikan Budaya

Porosnusantara.co.id|

Tulungagung – Tradisi kupatan sebagai bentuk kearifan lokal menjadi salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat Dusun Ngasbuntung, Desa Banjarsari, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dari para leluhur dan terus dijaga keberadaannya hingga kini.
Kupatan tidak hanya sekadar perayaan setelah Hari Raya Idulfitri, tetapi juga menjadi bentuk upaya masyarakat untuk uri-uri ( melestarikan ) budaya Jawa agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Sebagai orang Jawa, sudah sepatutnya kita menjaga dan mempertahankan tradisi sebagai bagian dari identitas budaya. Mengutip pepatah Jowo ” naliko kita njaga tradisi, kita sejatine lagi njaga jati diri ” dan amarga kaya paribasan ” Wong Jawa aja nganti ilang Jawane “.

Selain itu, tradisi kupatan juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami makna simbolis di dalamnya. Kupat sendiri sering dimaknai sebagai “ngaku lepat” ( mengakui kesalahan ) dan “laku papat”, yaitu empat tindakan: Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Nilai-nilai ini menjadi pengingat agar manusia senantiasa rendah hati, saling memaafkan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Seperti pepatah Jawa, “wong Jawa aja nganti ilang Jawane,” yang mengandung makna bahwa jati diri dan budaya tidak boleh hilang. Saat kita menjaga tradisi, sejatinya kita juga sedang menjaga identitas diri.
Pelaksanaan acara kupatan disambut dengan antusias oleh warga. Setiap RT/RW di Dusun Ngasbuntung turut berpartisipasi, bersama para penggiat pemuda yang aktif membantu jalannya kegiatan. Kebersamaan dan gotong royong tampak jelas dalam setiap rangkaian acara yang digelar pada Kamis malam ( 26/3 ).

Penulis: Ichwan EfendyEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *