Porosnusantara.co.id | Los Angeles – Gelombang protes “No Kings” yang berlangsung di berbagai kota di Amerika Serikat pada akhir Maret 2026 awalnya berjalan damai, namun suasana berubah di Los Angeles ketika salah satu demonstran berpakaian seperti Lady Liberty ditangkap dan dirantai di tengah aksi. Insiden ini menjadi sorotan media dan sosial, sekaligus memicu ketegangan serta penangkapan tambahan di sekitar Pusat Penahanan Metropolitan.
Seorang pengunjuk rasa melalui akun Substack menuturkan bahwa insiden ini menjadi momen paling mengesankan dari aksi hari itu. Demonstrasi yang awalnya damai berubah tegang saat aparat kepolisian mulai menertibkan kerumunan, dengan penggunaan gas air mata dan bola lada. Kostum Lady Liberty yang dikenakan demonstran menjadi simbol dari semangat gerakan “No Kings”: penolakan terhadap kekuasaan absolut dan pengingat bahwa demokrasi harus dijaga.
“Liberty itself is being led away.
After hours of peaceful No Kings demonstrations in Los Angeles, the scene changed near the Metropolitan Detention Center. Arrests began. Tear gas and pepper balls were used. And one of the most unforgettable images of the day was LAPD arresting a protester dressed as Lady Liberty in chains.”
Gerakan “No Kings” merupakan aksi nasional yang menentang konsentrasi kekuasaan, otoritarianisme, dan kebijakan pemerintah yang dianggap melampaui batas demokrasi. Aksi ini digelar secara serentak di lebih dari 3.200 lokasi di seluruh Amerika Serikat pada 28 Maret 2026, dengan perkiraan lebih dari 8 juta orang ikut serta. Demonstrasi berlangsung di kota-kota besar seperti New York, Washington D.C., Chicago, Minneapolis–St. Paul, dan Los Angeles, serta di sejumlah kota kecil yang juga menggelar aksi skala lokal.
Di sebagian besar lokasi, aksi tetap damai. Massa membawa poster bertuliskan pesan-pesan pro-demokrasi dan menolak kekuasaan yang menyerupai monarki, sambil meneriakkan slogan “No Kings” sebagai simbol kedaulatan rakyat. Namun, di Los Angeles, penangkapan demonstran Lady Liberty memicu ketegangan. Aparat kepolisian setempat menggunakan gas air mata dan bola lada untuk membubarkan sebagian kecil massa yang dianggap melanggar batas keamanan. Meski begitu, sebagian besar aksi tetap berlangsung tertib dan berhasil menyampaikan pesan politiknya.
Para pengamat menilai insiden Lady Liberty menyoroti sensitivitas aparat dalam menghadapi simbol-simbol protes, sekaligus menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Dengan jutaan orang turun ke jalan, gerakan “No Kings” menunjukkan kesadaran politik yang tinggi di masyarakat Amerika, menuntut keterbatasan kekuasaan individu dan penegakan prinsip demokrasi.
Bagi banyak peserta, simbol Lady Liberty yang dirantai menjadi pengingat kuat bahwa kebebasan sipil harus terus dijaga, bahkan di tengah tekanan atau interaksi dengan aparat. Demonstrasi ini bukan hanya protes sesaat, tetapi pernyataan kolektif bahwa hak politik dan kebebasan warga negara adalah inti dari demokrasi yang hidup di Amerika Serikat.






