Dialektika antara Aktivis Cendekia Kritis, Gerakan Agraria, dan Tantangan Generasi Pertanian: SPI, PSA IPB, dan Insist Press Luncurkan Tiga Buku Terjemahan Kajian Agraria

Porosnusantara.co.id | Bogor – Serikat Petani Indonesia (SPI) bekerja sama dengan Pusat Studi Agraria (PSA) IPB University dan Insist Press meluncurkan tiga buku terjemahan kajian agraria ke dalam bahasa Indonesia. Peluncuran yang dirangkaikan dengan diskusi ini berlangsung di Auditorium Andi Hakim Nasution, IPB University, Dramaga, Bogor, Senin (2/2/2026).

Tiga buku yang diluncurkan merupakan karya dua akademisi agraria internasional, Saturnino M. Borras Jr. dan Ben White, yakni Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional, Aktivisme Cendekia dan Perjuangan Agraria, serta Pertanian dan Masalah Generasi. Ketiganya membahas relasi antara gerakan sosial petani, peran intelektual kritis, serta tantangan regenerasi di sektor pertanian.

Peluncuran buku ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pengetahuan agraria agar tidak hanya beredar di lingkungan akademik, tetapi juga dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh petani, nelayan, masyarakat desa, hingga generasi muda.

Ketua PSA IPB University, Bayu Eka Yullian, dalam sambutannya menyoroti persoalan sirkulasi pengetahuan global yang semakin menyerupai mekanisme pasar. Menurutnya, pengetahuan kerap diproduksi, dinilai, dan dipertukarkan layaknya komoditas. “Ini bisa kita sebut sebagai industrialisasi pengetahuan,” ujar Bayu.

Ia menegaskan, pengetahuan harus dapat diakses oleh rakyat luas, khususnya petani, nelayan, dan pemuda desa. Karena itu, buku-buku yang diluncurkan akan dibuka aksesnya secara gratis melalui situs resmi Insist Press. “Jangan sampai ilmu pengetahuan hanya berputar di ruang kelas kampus dan dinikmati oleh segelintir elit,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IPB University Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat Agromaritim, Prof. Dr. Ernan Rustiadi, menilai diskursus pemikiran kritis agraria tetap relevan di tengah dinamika pembangunan saat ini. Ia menyebut, berbagai ketimpangan yang terjadi justru membuat pemikiran-pemikiran kritis kembali menemukan relevansinya.

Penulis: DwiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *