Porosnusantara.co.id |
BOGOR – Indonesia yang kerap dijuluki The Golden Islands dikenal dunia sebagai negeri dengan kekayaan budaya yang beragam. Namun, di tengah keberagaman tersebut, gesekan antarumat beragama masih kerap terjadi, termasuk di Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tangerang, Banten.
Beberapa waktu terakhir, salah satu kelompok umat beragama di wilayah tersebut mengalami kendala dalam menjalankan ibadah karena adanya penolakan dari kelompok lain. Pemerintah Kecamatan Parung Panjang dan Pemerintah Kabupaten Bogor pun terus berupaya mencari solusi damai bagi semua pihak.
Di tengah situasi tersebut, Desa Lumpang menjadi contoh hidup toleransi dan pelestarian budaya. Di desa ini berdiri megah Vihara Avalokitesvara yang menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus kebudayaan umat Buddha di Parung Panjang.
Vihara yang berlokasi di Kampung Sadangan itu telah berdiri sejak tahun 1980 dan beberapa kali mengalami renovasi hingga menjadi bangunan yang megah seperti saat ini. Meski berada di kawasan yang dilalui truk pengangkut pasir setiap hari, suasana vihara tetap asri dan terawat, dikelilingi pepohonan rindang.
Saat tim redaksi berkunjung pada Minggu (16/2/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, tengah berlangsung acara pemberkatan pernikahan. Ketua Majelis Umat Buddha Kecamatan Parung Panjang, Ahadi, menjelaskan bahwa Vihara Avalokitesvara merupakan vihara terbesar di wilayah tersebut.
“Kegiatan di sini sama seperti vihara pada umumnya, ada kebaktian, sekolah minggu, pemberkatan, hingga perayaan Imlek,” ujarnya.
Kebaktian remaja dijadwalkan setiap Jumat malam. Setiap Minggu pagi digelar sekolah minggu untuk siswa PAUD hingga SMP kelas 3, sementara siang harinya majelis bapak-bapak dan ibu-ibu melaksanakan kebaktian rutin.
Peran pemuda sangat dominan dalam menghidupkan kegiatan vihara. Hendra Wijaya, Ketua Sekolah Minggu, mengatakan bahwa para pemuda menjadi penggerak utama pelestarian budaya Tionghoa di lingkungan vihara.
“Biasanya yang mengajar sekolah minggu dan kegiatan kebudayaan adalah pemuda-pemuda di sini,” kata Hendra.
Salah satu kesenian yang menonjol adalah barongsai dengan anggota sekitar 30 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Barongsai tidak hanya tampil saat hari besar keagamaan, tetapi juga dalam acara ulang tahun dan pemberkatan pernikahan.
Perayaan terbesar di vihara ini adalah Shejit, yaitu peringatan hari ulang tahun vihara. Perayaan tersebut diisi dengan ibadah bersama, ritual mengelilingi rupang, ritual injak bara, serta ritual mandi minyak yang diyakini membawa keberkahan dan kesehatan.
Tak hanya melestarikan budaya Tionghoa, para pemuda juga mengajarkan budaya Nusantara kepada anak-anak sekolah minggu.
“Kami tidak hanya mengajarkan budaya Tionghoa, tapi juga Tari Jaipong dan Tari Betawi,” ujar Hendra.
Semangat “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” tercermin dalam aktivitas mereka. Meski mayoritas merupakan keturunan Tionghoa, para pemuda tetap menanamkan kecintaan terhadap budaya Indonesia, khususnya budaya Sunda sebagai identitas lokal.
Di tengah dinamika sosial yang terjadi, Vihara Avalokitesvara di Desa Lumpang menjadi contoh bahwa harmoni dan toleransi dapat tumbuh berdampingan dengan pelestarian budaya.






