Kak Risqi sebagai pemateri kedua menimpali bahwa manusia perlu berdampingan dengan kemajuan teknologi saat ini, yakni salah satunya adalah AI. Ia menekankan bahwa setiap orang perlu memiliki kesadaran bahwa AI hanyalah alat, bukan pengganti manusia, bukan pula penentu nilai.
Tak lupa ia mengingatkan bahwasannya di balik peluang yang dihasilkan oleh teknologi, AI juga memiliki ancaman serius bagi kehidupan. Seorang ilmuwan bernama Geoffrey Hinton mengundurkan diri dari jabatannya di Google Brain, dan mengemukakan bahwa peringatan eksistensial ‘monster’ yang ia bantu ciptakan telah lepas kendali.
Ia juga memilih mengundurkan diri dengan alasan agar lebih bisa leluasa menyampaikan dampak positif dan negatif dari teknologi tersebut pada publik. Hal ini tentu menjadi tantangan yang serius, di mana AI memiliki peluang dan ancaman di masing-masing sisinya. Risqi menerangkan bahwa sebagai seorang muslim, kita tetap dapat memanfaatkan peluang global dari AI untuk menyebarkan kebaikan secara masif dan mendunia.
Dari sisi seorang muslim, Kak Zakiah sebagai pemateri ketiga memberikan benang merah perihal adanya tantangan AI bagi generasi Z. Ancaman dan peluang yang datang sebagai dampak AI dapat terselesaikan dengan fokus pada suatu akar masalah setiap risikonya. Ia menjabarkan keadaan generasi Z saat ini yang masif melakukan perubahan di berbagai penjuru dunia.
Gen Z yang memiliki semangat tinggi diiringi teknologi yang menemani tumbuh kembang mereka membuat generasi ini banyak mengolah informasi hingga munculnya pemikiran kritis dalam setiap orang.
Namun, sayangnya banyaknya informasi yang diolah oleh generasi ini belum menemukan akar titik masalahnya. Sehingga, fokus utama Gen Z hanyalah masalah teknis yang muncul dipermukaan, tanpa mengolah lebih dalam akar permasalahannya. Oleh karenanya, Zakiah menilai bahwa perlunya pendalaman pemikiran untuk generasi ini agar bisa menguraikan permasalahan yang ada.







