Perwakilan Kaltara Bersama Duta Besar Indonesia Untuk Thailand Dalam Pentas Seni Indonesia Fair Di Bangkok

Pada kesempatan ini juga dibawa produk lokal berupa batik Bultiya dan cokelat produksi petani lokal Kaltara.

Program ini bisa berjalan berkat dukungan dari KBRI Bangkok, Pemerintah Provinsi Kaltara, Kapolda Kaltara, PT. PKN, PT.ABDI BORNEO, BAPASAK KALTARA dan seluruh keluarga budayawan dan anggota Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara yang tidak dapat disebut satu-persatu.

Adapun makna musik dan tarian yang akan ditampilkan adalah sebagai berikut:

1. Lan E Sape (Samion) “Lan e sape’ dalam bahasa Dayak (Kenyah) berarti “Datanglah teman”, merujuk pada ajakan untuk berkumpul dan bersenang-senang. Lagu ini tanpa lirik, dimainkan dengan musik sampe’.

2. Wonderful Borneo (Samion). Irama musik Sampe’ dayak kenyah ini menceritakan keindahan alam Kalimantan. Melalui petikan senar Sampe’, disebarkan suasana hutan yang lebat, sungai yang berkelak-kelok, bebukitan hijau dan suara burung-burung dan hewan yang merdu. Iringan musik tradisional ini mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan alam di sekitat kita.

3. Leleng (Samion). makna Utama Lagu Leleng: kesedihan dan Kegelisahan: Lagu ini menceritakan kesedihan Utan Along karena kekasihnya menghilang dan ia merasa kebingungan akan nasibnya. Kerinduan dan Harapan: Menggambarkan kerinduan yang mendalam akan kekasihnya serta harapan akan pertemuan kembali. Perlawanan dan Kegembiraan: Di sisi lain, lagu ini juga menjadi ajakan untuk tidak larut dalam kesedihan, mengajak teman-teman untuk menari dan bergembira bersama dalam lingkaran persaudaraan, bahkan saat menghadapi cobaan hidup.

4. Datun Julut (Samion). Irama musik Sampe ini menggambarkan keindahan dan gerakan burung Enggang (burung enggang), menjadi simbol rasa syukur, pesta panen, dan penyambutan tamu istimewa.

Penulis: DwiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *