Kata Para Juri
Pada Sayembara Novel DKJ 2025, ada 792 naskah yang masuk ke panitia. Naskah-naskah tersebut telah melewati seleksi administrasi dari awalnya 1.162 pendaftar yang diwakili oleh 49,1% atau 500 penulis perempuan, 47,8% atau 416 penulis laki-laki, dan 2,9% atau 31 orang penulis yang memilih untuk tidak menyebutkan karakteristik seksnya.
Dari ratusan naskah itu, Generasi Milenial mendominasi dengan 531 pendaftar, disusul Generasi Z sebanyak 359 orang yang menegaskan menguatnya regenerasi penulis muda. Generasi X tercatat sebanyak 208 pendaftar, sementara generasi Baby Boomers tetap menunjukkan keterlibatannya dalam lanskap sastra dengan 22 pendaftar. Lebih dari itu adalah pendaftar tidak menyebutkan informasi pribadi yang berkaitan dengan
generasinya.
“Data-data ini memperlihatkan Sayembara Novel DKJ 2025 menjadi ruang lintas generasi
yang mempertemukan berbagai latar usia dalam satu arena kesusastraan yang setara,” kata dewan juri.
Secara sebaran geografis, pendaftar Sayembara Novel DKJ 2025 mayoritas berasal dari Pulau Jawa (276 pendaftar, Jawa Timur 160 pendaftar, dan Jawa Tengah 143 pendaftar). DKI Jakarta menyusul dengan 121 pendaftar yang memperlihatkan masih kuatnya posisi Ibu Kota sebagai pusat produksi dan distribusi kebudayaan.
“Partisipasi dari luar negeri menunjukkan ekspansi sayembara ini secara global, dengan
pendaftar dari Australia, Hongkong, Istanbul, Italia, Jepang, Jerman, Thailand, dan Timor
Leste,” kata dewan juri.
Tema-tema naskah yang masuk juga cukup mengagumkan. Mulai dari sejarah, kolonialisme, tragedi politik dan kekerasan negara seperti 1965, relasi manusia dan teknologi, kecerdasan buatan, kekerasan seksual, isu lingkungan, lokalitas, perjalanan (traveling), kesehatan mental, sampai fantasi. Tak sedikit pula yang menelusuri persoalan identitas, tubuh, dan cerita anjak dewasa (coming of age), hingga dunia distopia yang sarat akan
pengawasan.






