Doktor Baru dari Sumatera Selatan: M. Saiyid Mahadhir dan Inovasi Ngaji Lagu dalam Tradisi Melayu Islam

Dalam penelitiannya, Saiyid melakukan penelusuran sejarah (heuristic) di empat kecamatan: Indralaya Induk, Indralaya Utara, Indralaya Selatan, dan Tanjung Batu. Ia menghimpun berbagai sumber seperti buku, majalah, foto, hingga dokumentasi video, serta melakukan wawancara mendalam dengan para kiai, ustadz, guru ngaji lagu, dan tokoh masyarakat setempat.

Hasil penelitiannya memberikan kontribusi nyata bagi para difusor dan penggerak tradisi Ngaji Lagu, agar mampu memaksimalkan proses penyebaran inovasi keislaman melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter sosial dan budaya masyarakat.

Tak berhenti di ranah akademik, Saiyid bersama adiknya sekaligus Co-Founder Ngajee, Anas Roiyan, serta dua sahabatnya, Ahmad Huazi dan Ahmad Mizuar, kini tengah mengembangkan Kampung Ngajee, sebuah gerakan berbasis komunitas yang berfokus pada pengembangan pembelajaran keislaman Melayu dan pembelajaran Al-Qur’an secara inklusif serta kontekstual di pedesaan.

Melalui Kampung Ngajee, mereka berupaya menghadirkan ruang belajar Al-Qur’an yang tidak hanya menekankan pada ketepatan bacaan, tetapi juga keindahan irama, makna spiritual, dan keterhubungan budaya lokal.

CReToN bukan hanya teori, tetapi juga gerakan nyata. Kami ingin menghidupkan ngaji dan ngaji lagu sebagai budaya yang menyatukan ilmu, seni, dan spiritualitas,” ungkap Saiyid penuh semangat.

Salah satu peserta sidang promosi yang hadir menyampaikan kesan mendalam atas penelitian tersebut.

Saya melihat ini bukan sekadar penelitian akademik, tetapi cerminan cinta terhadap Al-Qur’an dan kebudayaan lokal. Teori CReToN bukan hanya mengurai fenomena ngaji lagu, melainkan juga membuka jalan bagi pelestarian tradisi Islam Melayu yang adaptif terhadap zaman,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *