Sebagai pewarta injil, Kiai Sadrach mengusung gerakan Mardiko (merdeka). Mardiko yang ia maksudkan jalah kemerdekaan secara rohani dan jasmani pada jemaatnya, serta udak menganggap bahwa Kristen sebagai agama penjajah. “Kiai Sadrach melakukan pewartaan injil sesuai dengan kontek sosial masyarakat Jawa pada saat itu. Ia tak ingin bahwa Kristen yang diwartaan oleh orang Eropa berpusat pada kultur yang mereka bawa saja,” jelas jemaat GITJ tersebut dengan tinjauan menurut 1 Korintus 9.20-23.
Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna) Indonesia sebagai inisiator bedah buku ini, turut menghadirkan Ketua Umum Pewarna Id Yusuf Mudjiono sebagai salah satu narasumber. Penerbitan bu Sadrach ini merupakan karya intelektual yang juga menjadi pergerakan Pewarna Id untuk mengingatkan kembali peran misionaris lokal untuk mewartakan inyil.
“Tunggul Wulung, Sadrack di tanah Jawa. Pontas Lumban Tobing di Tapanuli Mereka adalah pribumi yang turut menjadi pewarta injil. Mereka menginjili dengan pendekatan budaya. Menggunakan simbol, seni, dan ornamen lokal agar injil lebih diterima masyarakat.”
Jasarmen Purba, Ketua Umum MUKI menegaskan bahwa kekristenan yang berbasis budaya adalah sesuatu yang penting dan perlu dipertahankan, selama tidak bertentangan dengan nilai nila iman Kristen. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indoneaia, Harsanto Adi, menggarisbawahi dampak kolonialisme Belanda yang lebih berorientasi pada kekuasaan dibandingkan penginjilan.
“Peluncuran buku ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan sejarah dan menjaga semangat penginyilan kontekstual,” ungkap Harsanto Adi.
Kehadiran buku ini dan diskusi seputar warisan Kiai Sadrach memberikan perspektif baru tentang bagaimana Injil dapat dikontekstualisasikan tanpa kehilangan esensinya. Di tengah tantangan zaman, penginjilan berbasis budaya bisa menjadi inspwasi bagi gereja masa kini untuk tetap relevan tanpa meninggalkan akar iman.






