Gede Pasek Suardika
Ketua Majelis Agung Partai Kebangkitan Nusantara
Bali-PorosNusantara.co.id
Berapa ideal jumlah Bandara di Bali jika melihat potensi lalu lintas udara hari ini dan beberapa puluh tahun ke depan?
Maka jawaban pastinya adalah,harus lebih dari satu.Sebab jika satu maka akan sering terjadi “keruwetan” dan kerumitan akibat tidak berkembangnya daya dukung dan koneksitas transportasi darat dengan transportasi udara.
Bali kecil?
Iya,memang kecil tetapi jumlah peredaran manusianya sangat tinggi dan itu menumpuk di Selatan.
Solusi Bandara Bali Utara memang salah satu opsi dan bisa membantu wilayah tengah Timur dan Utara untuk berkembang sekaligus menyeimbangkan beban Bali Selatan.
Sebagai pembanding, satu daerah yang lebih dari satu bandaranya, yaitu Jatim.
Memiliki Bandara di Sidoarjo, Malang, Kediri dan Banyuwangi. Bahkan ada juga Sumenep. Jarak diantara mereka antara 2 jam sampai 5 jam antar bandara.
DKI juga memiliki Halim, Kebon Cabe, Cengkareng (Banten), Sultra NTT, NTB, Maluku dan lainnya malah jumlah bandaranya jauh lebih banyak.
Jadi terlepas soal pro dan kontra maka ke depan, Bandara adalah kebutuhan.Mobilitas akan lebih padat dengan pergerakan manusia yang semakin variatif.
Tidak hanya itu, jika kedepan mau membuat diferensiasi, bisa saja Nusa Penida dikembangkan khusus bandara private jet khusus orang orang kaya. Layaknya membuat pelabuhan Yacht untuk kapal kapal milik orang kaya yang berlibur. Konsep pengembangannya harus ditata dan dipikirkan dengan baik.
Jika sebelumnya banyak politisi yang mau jadi kepala daerah sudah berjanji, ternyata tidak terealisasi, maka bukan salahnya kebutuhan bandara, tetapi kesalahan kita mempercayai orang yang berjanji tersebut.






