Menteri PUPR Basuki Hadimuljono juga berbagi pengalaman Indonesia dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Selain melalui pembangunan infrastruktur, Kementerian PUPR juga melakukan kolaborasi lintas sektor dengan para pemangku kepentingan strategis.
“Untuk menghadapi bencana terkait air yang dipicu oleh perubahan iklim, maka investasi infrastruktur air harus dirancang dengan baik dan ditingkatkan untuk kepentingan jangka panjang. Hal ini penting dalam rangka meningkatkan kapasitas pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim,” ujar Menteri Basuki.
Bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, dan Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR menerapkan teknologi prediksi curah hujan dan ketinggian air, serta mengoptimalkan kapasitas intake dan menyediakan pintu tambahan pada spillway bendungan untuk memungkinkan strategi pelepasan. Tujuannya antara lain untuk mengendalikan puncak debit hujan.
The G20 Special Event HELP juga menyinggung rencana penyelenggaraan 10th World Water Forum 2024 di Bali dimana World Water Council (WWC) dan Pemerintah Indonesia menjadi co-organizer.
World Water Forum merupakan platform bagi para stakeholders di bidang air untuk dapat berkolaborasi dan membuat kemajuan jangka panjang dalam menghadapi tantangan air global. Ketua World Water Council, Loic Fauchon yang juga anggota HELP mengatakan bahwa terdapat dua pesan utama yang dapat disampaikan kepada para pemimpin G20.
“Pertama, isu air tidak dapat dilepaskan dari urusan politik. Kami berharap para pemimpin dunia akan mulai memprioritaskan air melalui berbagai kebijakan. Kedua, pengelolaan air bertujuan untuk mengurangi dampak dari bencana air, seperti banjir, kekeringan dan polusi lingkungan. Oleh karena itu selama G20, WWC dan HELP telah memohon Presiden Joko Widodo untuk menjadi Water Messenger kepada para pemimpin G20,” tutup Loic.






