Ragam  

Pewarna Indonesia Mengunjungi BPH Sinode GITJ, Pati Jawa Tengah : Napak Tilas “Rasul Jawa”

Setelah berziarah, tim survei kembali melanjutkan perjalanan dengan melewati Benteng Portugis Donorojo di Jepara. Tujuan berikutnya mengunjungi bangunan  gereja tua Gereja Injili diTanah Jawa Donorojo yang berdiri sejak 1930an, lalu ke GITJ Margorejo sembari berziarah ke makam Yesaya Saritruno (murid Kyai Ibrahim Tunggul Wulung) di Tegalombo.

Rombongan juga berkunjung ke kantor BPH sinode GITJ Banyutowo-  Pati. Rombongan disambut Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode Gereja Injilli di Tanah Jawa ( GITJ ), Ketua Umum Pdt. Em Timotius Katrisno, Ketua Departemen Marturia Pdt. Abednego Utomo, Wabendum Bpk. Tri Gunanto. Pertemuan ini membicarakan persiapan acara Napak Tilas.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua umum sinode GITJ Ketua Umum Pdt. Em Timotius Katrisna mengatakan sangat menyambut baik dan mendukung acara Napak Tilas “Rasul  Jawa”. “Kami sangat mengapresiasi atas kegiatan Napak Tilas “Rasul Jawa”. Acara ini bisa mengangkat kembali sejarah mengenai penyebaran Kekristenan di pulau Jawa dan bisa mengangkat nama gereja dan kebudayaan di wilayah ini. Saya berharap agar Kekristenan di pulau Jawa dapat dikenal oleh masyarakat Indonesia, ” ujarnya.

Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono menjelaskan, ” Perjalanan Napak Tilas “Rasul Jawa” yang diselenggarakan oleh Pewarna Indonesia menjadi tonggak sejarah dalam mengangkat perjalanan sejarah penginjilan di tanah Jawa yang dilakukan oleh orang Pribumi asli Indonesia. Kami juga ingin mengangkat kebudayaan dan wisata rohani Kristen agar dikenal oleh masyarakat Indonesia, khusus umat Kristiani, ” jelas Ketua Umum Pewarna Indonesia.

Setelah berkunjung ke Kantor sinode GITJ, Tim Survei Pewarna Indonesia melanjutkan perjalanan ke pantai Banyutowo. Disana tim secara simbolik menanam bibit pohon bakau di hutan mangrove di dekat Pantai Banyutowo, Pati, Jawa Tengah. Secara simbolik tim menanam bibit bakau sebagai tanda kehadiran Pewarna Indonesia dalam mendukung program rehabilitasi hutan mangrove di Banyutowo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *