oleh

ANDI DELA: Saya Merasa Terzolimi Atas Kebijakan Dirjen Bimas Buddha

Porosnusantara.co.id – Jakarta, (19/9/ 2021) – Andi Dela merasa sangat kecewa lantaran tanpa sebab yang pasti bahkan saat dirinya sedang melaksanakan tugas sebagai Kabag Keuangan dan Umum telah dilantik Sdr. Triroso Pembimas Buddha pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten dalam jabatan yang sama yaitu Kabag Keuangan dan Umum di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (3/9/2021) sementara dirinya masih menjadi pejabat definitive di tempat itu sehingga terjadi dobel pejabat.

Kondisi ini tentu saja kurang kondusif dalam lingkungan kerja.
”Saya tetap bekerja sebagaimana mestinya sebelum SK saya terima dan sebelum ada pelantikan,” kata Andi Dela dalam satu sesi pada malam hari di bilangan Jakarta Pusat (19/9/2021).
“Saya secara pribadi dan seluruh pegawai Bagian Keuangan dan Umum yang saya pimpin, telah bekerja dengan baik terbukti dengan hasil audit Itjen Kemenag maupun audit BPK atas LK Ditjen Bimas Buddha tahun 2020 clear, tidak ada temuan keuangan; dan progres penyerapan anggaran Eselon I Ditjen Bimas Buddha tahun 2021 sd. 10 September 2021 mencapai 64,08% dan secara umum (nasional) mencapai 66,72% tertinggi diantara Unit Eselon I Pusat dan melebihi rerata progres Kementerian Agama secara Nasional,” tutur Andi Dela lebih lanjut.

BACA JUGA  Ramah tamah Jelang Pelantikan ICMI Wajo, Amran Mahmud Ajak Cendekiawa Tangkal Isu Radikalisme

Sosok ASN yang dikenal low profile ini telah mengadukan permasalahan ini kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Agama dan Komisi ASN untuk melakukan investigasi lebih lanjut karena diduga ada kesalahan prosedur terutama dalam proses pengusulan Keputusan.

Andi Dela mengatakan bahwa setelah kurang lebih berlangsung selama 2 minggu terjadi dobel jabatan Kabag Keuangan dan Umum di Ditjen Bimas Buddha bahkan pembatalan pelantikan dirinya oleh Dirjen Bimas Buddha, Andi Dela benar-benar merasa terzolimi atas diterimanya SK Menteri Agama yang menyatakan bahwa dirinya dialihtugaskan sebagai pembimas Buddha pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten menggantikan Triroso (15/9/2021).

Namun demikian dirinya tetap akan melaksanakan tugas sebagai Pembimas Buddha sebagai bentuk komitmen terhadap Sumpah dan janji PNS sekaligus loyalitas kepada Menteri Agama dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat utamanya Umat Buddha. Bukan sebagai bentuk penerimaannya terhadap hukuman disiplin. Karena dirinya tidak pernah melakukan pelanggaran disiplin maupun etika dan tidak pernah dipanggil untuk proses pelanggaran disiplin apapun.

Menurut kajian redaksi porosnusantara.co.id, bahwa dalam proses promosi, rotasi, maupun mutasi seharusnya ada analisis yang matang karena menyangkut hajat hidup sesorang. Dalam kasus ini, terlihat aneh dan menyimpang karena Andi Dela tidak pernah melakukan pelanggaran disiplin maupun etika, telah bekerja dengan baik, tetapi justru dipindahkan dan diturunkan jabatannya setingkat lebih rendah yaitu dari Eselon IIIA ke Eselon IIIB yang secara kasat mata hanya dapat dilakukan jika seorang PNS melakukan pelanggaran disiplin berat. “Saya tidak pernah dipanggil dan diproses sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku akibat melakukan pelanggaran disiplin maupun etika, apalagi pelanggaran disiplin berat,” tutur Andi Dela lebih lanjut. Ia berharap Inspektorat Jenderal dan Komis ASN dapat segera menindaklanjuti pengaduannya agar dapat terungkap siapa sebenarnya actor dan motif dari semua kezoliman ini.
Patut diduga bahwa Dirjen Bimas Buddha sebagai pejabat tertinggi di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI kurang teliti dalam melakukan analisis maupun kebijakan karena usul mutasi yang bersangkutan berasal dari Dirjen Bimas Buddha sendiri.

BACA JUGA  Donasi Para Dermawan, Bupati Wajo Terima 800 Mushaf Al-Quddus untuk Penghafal Al-Qur’an.

Agung Heri Wahyono sebagai Pemerhati Kehidupan Beragama dan Kerukunan Agama di Indonesia, memberikan komentar bahwa kebijakan Dirjen yang seperti itu patut dipertanyakan. Ada apa gerangan dengan Dirjen Bimas Buddha?

“Kalau seorang pejabat yang memiliki kedisiplinan, integritas, dan etos kerja baik seharusnya mendapatkan reward atau promosi jabatan, bukan malah diturunkan jabatannya,” terang Agung yang menjadi salah satu aktivis Penggerak Lintas Agama.

BACA JUGA  DASAR PERGANTIAN PEJABAT KEJAKSAAN TIDAK SUBYEKTIF

Secara aturan kepegawaian Jabatan Pembimas Buddha hanya dapat mencapai pangkat dan golongan tertinggi Pembina, IV.A sedangkan Andi Dela telah lama sudah menduduki pangkat dan golongan Pembina Tingkat I, IV.B. Meskipun Andi Dela tidak diturunkan pangkatnya, namun dirinya telah dirugikan terutama dari tunjangan jabatan Eselon III.A menjadi eselon III.B, Grade Tunjangan Kinerja dari Grade 12 menjadi Grade 10, Juga kerugian secara karir dan nama baik, karena dengan diturunkan jabatan masyarakat patut mengira bahwa Andi Dela telah melakukan pelanggaran disiplin berat,” Analisis Agung.

Lebih lanjut Agung mengatakan bahwa kasus ini dapat menjadi preseden buruk bagi Kementerian Agama RI. Ia berharap Menteri Agama RI dapat menganulir keputusan tersebut dengan mengembalikan yang bersangkutan ke Jabatan semula sebagai Kabag Keuangan dan Umum.

Ketika Andi Dela ditanya apakah akan melanjutkan kasus ini ke PTUN? Dengan tersenyum dirinya menjawab akan pikir-pikir dulu. Masih ada waktu sampai tanggal 29 September 2021. “Tunggu investigasi Inspektorat Jenderal Kementerian Agama maupun investigasi dari Komisi ASN,” pungkasnya. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkini