Sari Wijaya menyoroti tentang pentingnya melakukan indoktrinasi untuk bisa menjadikan Pancasila sebagai rumah besar kita (Indonesia) dan merawatnya tentu dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan kita sehari – hari. “Perbedaan pandangan sebenarnya tidak masalah, yang jadi masalah adalah membeda – bedakan, bahwa Pancasila lahir karena adanya perbedaan suku, agama, etnis, golongan dan lain – lain dan Pancasila itulah yang menyatukan perbedaan tersebut menjadi satu kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengutip pernyataan Gus Dur dalam konteks agama (Islam) bahwa Pancasila sesungguhnya sudah Islami, ibaratnya Islam itu sebagai Tebu dan Pancasila itu sebagai Gula dan diskursus tentang Islam dan Pancasila itu sudah final”.

Sementara Niko Fajar Setiawan dalam paparannya menyampaikan, “Tahun 1945 pada saat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) di bentuk, 4 orang dari 62 anggotanya berasal dari etnis Tionghoa diantaranya adalah Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oey Tjong Hau dan Tan Eng Hoa. Itu artinya bahwa seluruh elemen masyarakat yang ada di Indonesia dari berbagai etnis memiliki kontribusi terhadap bangsa dan kesemuanya itu di satu padukan di dalam Pancasila yang menjadi kesepakatan bersama menjadi dasar negara. Oleh karenanya segala macam bentuk perbedaan – perbedaan semacam itu (seharusnya) sudah tidak relevan lagi untuk di bicarakan. Sejalan dengan yang di sampaikan oleh Sari Wijaya, yang terpenting adalah mari kita sama – sama mengamalkan nilai – nilai yang terkandung di dalam butir – butir Pancasila dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab”.
Reporter : Johan Sopaheluwakan/Andre Hans)






