Pada masa perjuangan kemerdekaan kisaran tahun 1943-1944 sebelum kemerdekaan Tiyuh Gunung Katun ingin diserang oleh Penjajah, namun tokoh-tokoh Tiyuh Gunung Katun tersebut terus berusaha dan berhasil mempertahankan daerahnya bahkan mengembangkan Tiyuhnya.
Dengan berkembangnya zaman pada masa itu dan munculnya pembangunan jalan lintas Sumatera, kehidupan dari pinggiran sungai Way Besay mulai berpindah ke pinggiran jalan raya. Sehingga kediaman di pinggir Way Besay diberi nama Gunung Katun Tuha (Gunung Katun Tua). Kehidupan Tiyuh Gunung Katun terus berkembang, karena kekeluargaan yang sangat memegang kesantunan dan terbuka, maka banyak berdatangan penduduk dari desa lain di Way Kanan seperti Ogan, Palembang, Jawa dan sebagainya.
Pada masa dan generasi berikutnya, muncul tokoh-tokoh yang sangat berjasa dalam membangun Desa Gunung Katun. Pada masa itu telah terbentuk susunan pemerintahan dan yang menjadi kepala kampung pada masanya yaitu:
- Busri gelar Ratu Pusirah (Menjabat 1960-1974)
- Gustam Effendi gelar Sogoran Ratu (Menjabat 1975-2001)
- Darwis Rudin gelar Ratu Kepala Marga (2002-2007)
- A Rico Destri gelar Sunan Penutup (2008-2019)
Pada masa Kepala Kampung Busri gelar Ratu Pesirah (Tahun 1960-1974) mulai berdatangan transmigran dari luar daerah yang menetap di Kampung Gunung Katun, diantaranya
- Semoga Jaya
- Mulya Jaya
- Tebat Kangkung
- Suban
- Kibang
- Sri Katon (Talang Kemiling)
- Bukit Jambi
- Mulya Sari (Talang Suroto)
Penduduk asli Gunung Katun dapat menerima dengan senang hati, terbuka, berbaur dengan semua penduduk pendatang sehingga terbentuk masyarakat Gunung Katun yang majemuk namun tetap aman, damai dan tentram.
Dengan daerah yang luas dan juga menjadi persimpangan atau pintu masuk desa-desa lain dibentuklah Pasar Tradisional (Kalangan) yang menjadi pusat perniagaan jual beli didatangi pedagang-pedagang dari berbagai desa, pasar ini digelar setiap Hari Selasa pagi sampai dengan siang hari.






