Kementan Pacu Ekspor Unggulan Non Migas dari Kalsel

*Potensi Komoditas Ekspor Non Migas Kalsel*

Dari data BPS, ekspor dari Kalsel didominasi oleh minerba. Agar tidak terjadi ketergantungan, Kementan mendorong pengembangan dan peningkatan ekspor komoditas pertanian dari Kalsel. ” Kita pacu agar Kalsel juga dapat unggul dengan kinerja ekspor non migasnya. Dan kami mendapat laporan ada kenaikan eksportasi yang signifikan, ” ungkap Jamil saat menyerahkan PC kepada 2 pelaku usaha asal Kalsel.

Dengan total volume ekspor 8,4 ribu ton senilai Rp. 36,3 miliar, ekspor kali ini masing-masing adalah berupa minyak sawit sebesar 4,2 ribu ton senilai Rp. 29,6 miliar dan palm kernel ekspeller sebanyak 2,6 ribu ton senilai Rp. 4,1 miliar.

Kepala Karantina Pertanian Banjarmasin, Achmad Gozali menyampaikan kinerja eksportasi diwilayah kerjanya secara frekwensinya meningkat 2,6 %.

Ditahun 2019 hingga November 2019 tercatat 1.124 kali ekspor dengan nilai ekonomi Rp. 2,9 triliun. Sementara pada periode yang sama di tahun 2018 hanya tercatat 1.434 kali senilai 2,3 triliun. Gozali juga menyebutkan adanya produk ekspor yang unik atau emerging asal Kalsel yakni daun gulinggang atau sena. Sebanyak 127 ton daun ini telah dikirim ke Jepang hingga Oktober 2019 dengan nilai ekonomi mencapai Rp. 9 miliar.

Daun yang awalnya tumbuh di hutan ini, kini dengan adanya permintaan di pasar ekspor mulai di budidayakan. Petani di kabupaten Hulu Sungai Selatan mulai membudidayakan.Dengan berbasis kawasan akan mempermudah pihak Karantina Pertanian dalam mengawal proses bisnis ekspornya, kita apresiasi upaya pemerintah daerah, tambah Gozali.

Jamil kembali menegaskan bahwa Kementan membuka peluang seluas – luasnya kesempatan ekspor bagi masyarakat, agar ikut ambil dalam membangun pertanian dan memberikan kontribusi bagi daerahnya. “Gerakan berani ekspor perlu kita gelorakan diseluruh pelosok negeri, khususnya bagi kaum muda,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *