Dalam salah satu screenshot yang berhasil didapatkan, para perusuh tersebut terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama bergerak menggunakan media sosial, WA, Telegram untuk menggalang peserta demo untuk berbuat rusuh, chaos.
Kelompok kedua bergerak dalam sel-sel ‘keyakinan agama’ dengan para pengikut HTI, FPI sebagai jangkar / anchor dari setiap kelompok. Kelompok ini dibagi dalam wilayah kampus dan sekolah seperti kota dan provinsi. Salah satu contoh adalah cuitan Dhandy Laksono misalnya. Narasi yang dibangun tak lepas dari tuntutan Jokowi mundur karena mereka belum menang.
Kelompok ketiga adalah para pencari dana baik di medsos maupun lewat para pendana secara lokal dan nasional. Contohnya Nadine Kusuma Pangestuti dan Ahmad Fauzi di Yogyakarta yang jika terjadi kerusuhan tinggal dicokok.
Nah bayangkan mereka merancang demo yang rusuh dengan persiapan pistol rakitan. Ini bukan demo. Mereka akan membuat kerusuhan. Polisi dan TNI harus bertindak tegas menangani demo yang berpotensi rusuh hari ini.
Masyarakat diharapkan berhati-hati. Karena mereka adalah para pendemo, kaki tangan mahasiswa korban indoktrinasi, yang ditunggangi kelompok radikal anti Pancasila, HTI, kelompok intoleran yang ingin menghancurkan Indonesia. Bukan gerakan mahasiswa dan pelajar yang normal dan waras.( dwicahyono)






