Pada saat yang bersamaan, juga dilakukan pelepasan ekspor turunan kelapa yaitu berupa air kelapa, kelapa parut, tepung kelapa dan santan kelapa dengan tujuan USA, New Zealand, Brazil dan Hongkong melalui Pelabuhan Sungai Guntung dengan volume sebanyak 1,2 ribu ton senilai Rp 18 miliar. Selain itu, diekspor juga produk turunan kelapa sawit berupa RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin, RBD Palm Kernel Oil dan RBD Coconut Oil melalui Pelabuhan Dumai dengan volume sebanyak 77 ribu ton atau senilai Rp 788 miliar dengan negara tujuan Rusia, Algeria dan Turki.
“Untuk kualitas, kelapa dan kelapa sawit asal Provinsi Riau memiliki kualitas terbaik yang diakui pasar global. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai produsen kelapa dan kelapa sawit terbesar di dunia. Sehingga sesuai dengan instruksi Bapak Presiden, kita harus menggencarkan ekspor non migas untuk mendorong neraca perdagangan kita Indonesia yg juga merupakan arahan Bapak Menteri Pertanian,” ujar Jamil.
Kepala Karantina Pekanbaru, Rina Delfi menyampaikan bahwa produk kelapa dan kelapa sawit merupakan primadona ekspor provinsi Riau. Sepanjang tahun 2018, ekspor kelapa dan kelapa sawit mencapai 4,3 juta ton dengan nilai Rp 34 triliun. Sementara itu, dari Januari s/d Juni 2019, ekspornya telah mencapai 1,9 juta ton atau setara dengan nilai Rp 19,5 triliun.
Selain itu, Rina Delfi juga menambahkan pada tahun 2019 ini terdapat primadona baru pada komoditas ekspor yaitu talas dan gula kelapa, diikuti oleh kencur, alpukat dan pinang. Talas dan gula kelapa dari Provinsi Riau memiliki cita rasa yang khas sehingga diminati Malaysia dengan total talas ekspor mencapai 631 ton setara Rp 3 miliar dan gula kelapa sebanyak 199 ton setara Rp 1,4 miliar.






