Menurut Yasid, pemerintah telah berupaya keras untuk menjaga pasokan dan menstabilkan harga bawang putih. “OP ini salah satu cara kita mempercepat proses distribusi terutama ke wilayah yang masih tinggi (harga-red). Dimana-mana harga sudah normal bahkan cenderung turun, tapi kenapa di NTT masih tinggi. Ini yang sedang kita coba telusuri dan atasi segera bersama-sama instansi terkait,” katanya bernada heran.
Miqdonth Abolla, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mengaku senang dan mendukung kegiatan OP bawang putih di wilayahnya. “Kegiatan OP bawang putih pagi tadi jadi angin segar bagi masyarakat kupang untuk mendapatkan bawang putih murah dan terjangkau,” katanya. “Masalah yang terjadi selama ini, distributor disini tidak berani ambil banyak, paling hanya 3,5 ton tiap kirim ke Kupang. Ekspedisi juga jarang dan kerap ada saja kendala, makanya harga tidak turun-turun,” ungkap Miqdon. “Kami akan intensifkan lagi koordinasi dengan Satgas Pangan, Dinas Perdagangan dan BULOG di NTT untuk mempercepat normalisasi pasokan dan harga bawang putih di daerah kami,”sambungnya.
Anggota Tim Satgas Pangan Polda NTT, AKBP Josua Tampubolon, yang turut hadir saat pembukaan berjanji akan mengawal distribusi dan harga di tingkat pengecer setelah OP selesai. “Kami bersepakat dengan Kadis menghimbau agar pedagang eceran menjualnya kembali (bawang putih-red) maksimal Rp. 35 ribu. Kami beserta TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) akan terus mengawasi pergerakan harga dari sekarang” tegas Josua.
Direktur PT. Berkat Putih Abadi (BPA) Danang Aris Susanto, mengaku bangga dapat dipercaya membantu pemerintah mensupply bawang putih ke Kupang. “Ini adalah partisipasi kami untuk kesekian kalinya dalam kegiatan OP. Sudah menjadi komitmen kami sebagai pelaku usaha mendukung program pemerintah membantu masyarakat menstabilkan pasokan dan harga. Dengan menjual seharga Rp 25 ribu, kami masih dapet untung kok. Masyarakat juga happy tidak perlu beli mahal di pasar,” kata Danang antusias.






